Berbicara soal kiprah Indonesia di kancah olahraga dunia, pasti yang langsung teringat di benak adalah prestasi di cabang bulu tangkis. 

Permainan tepok bulu ini sangat populer dan tidak pernah berhenti menciptakan talenta kelas dunia, mulai dari Liem Swie King, Susi Susanti, Alan Budi Kusuma, Taufik Hidayat, sampai yang terbaru Anthony Ginting dan Jonathan Christie, mereka semua pemain kelas dunia dan pernah memenangi titel bergengsi mulai dari All England sampai Medali Emas Olimpiade.

Jika dibandingkan bulutangkis, balapan bukanlah olahraga yang cukup populer di Indonesia. Namun, tidak sedikit anak bangsa yang tengah mengukir jalan menuju puncak motorsport dunia.

Well, sebenarnya itu pernah terjadi, Indonesia pernah mencapai puncak motorsport beberapa tahun lalu.

Kita semua tidak lupa bagaimana Rio Haryanto dielu-elukan setelah menjadi pembalap F1 pertama asal Indonesia saat membela Manor Racing tahun 2016 lalu menyusul musim yang kuat di GP2 dengan tiga kemenangan dan posisi empat di klasemen akhir.

Hal ini membuat animo satu negara akan Formula 1 tiba-tiba naik, itu terjadi bahkan sebelum dokumenter Drive to Survive dibuat oleh Netflix.

Namun dengan Manor yang tidak kompetitif, Rio tidak bisa berbuat lebih pada musim 2016. Masalah sponsorship juga membuat pembalap kelahiran Solo ini harus merelakan kursinya diambil oleh Esteban Ocon setelah 12 balapan, dengan hasil terbaik P15 di Monaco.

Semenjak itu, Rio pernah melakukan beberapa tes dengan mobil Formula E dan Super Formula, namun bisa dibilang karier pembalap 29 tahun itu sudah 'habis' menyusul kegagalan tragis di Manor.

Selain Rio, ada juga Sean Gelael, pembalap yang pernah mengikuti beberapa sesi Free Practice 1 bersama Scuderia Toro Rosso.

Memulai karier balapnya di umur yang masih muda sebagai navigator cilik, perjalanan Sean di Single Seater dimulai tahun 2012 di kejuaraan Formula Pilota China.

Sean melanjutkan perjalanannya ke F3 European Championship dan British F3 antara tahun 2013-2014, sebelum akhirnya pindah ke GP2 pada pertengahan 2015.

Sean membalap di kompetisi kasta kedua di bawah F1 antara 2015-2020, namun ia gagal mengikuti kesuksesan yang sama seperti Rio. Membuatnya banting setir ke balap Endurance.

Itu terbukti menjadi keputusan tepat bagi pembalap 25 tahun, yang langsung berlabuh di Jota Racing untuk musim penuh pertamanya di World Endurance Championship di kelas LMP2 tahun 2021.

Dipasangkan dengan Stoffel Vandoorne dan Tom Blomqvist, Sean terbukti menjadi seorang pembalap Endurance yang sangat solid dan konsisten sepanjang musim, terlihat dari lima podium, termasuk P2 di Le Mans 24 jam yang dikumpulkan ketiganya sepanjang 2021 dan mengakhiri musim sebagai runner-up LMP2.

Kemenangan akhirnya diraih oleh Gelael yang pindah ke WRT untuk musim 2022 pada Spa-Francorchamps 6 jam bersama Robin Frinjs dan Rene Rast. Namun, inkonsistensi dan hasil buruk, termasuk DNF Le Mans 24 Jam membuatnya kini ada di posisi lima klasemen.

Geliat negara sepeda motor

Dikenal sebagai salah satu pasar terbesar sepeda motor di dunia, Indonesia juga menjadi salah satu pangsa pasar terbesar MotoGP dengan jumlah fanbase yang luar biasa besar.

Dengan merk besar seperti Honda atau Yamaha membuka program akademi pembalap di Indonesia, bakat-bakat balap bermunculan silih berganti.

Jika Anda sudah menonton MotoGP sejak tahun 2000-an, Anda pasti ingat Doni Tata Pradita, yang pernah turun selama dua musim yakni 2008 (250cc) dan 2013 (Moto2). Namun, itu hanyalah awal dari talenta balap motor lainnya asal Indonesia.

Sebut saja nama seperti M.Fadli, Dimas Ekky, Gerry Salim, Andi Gilang, Galang Hendra Pratama sampai Mario Suryo Aji semuanya pernah mencatatkan prestasi gemilang di ajang Asia Road Racing Championship (ARRC).

Tak puas berjaya di Asia, para pembalap melanjutkan kiprahnya ke jenjang yang lebih tinggi seperti CEV, Red Bull Rookies Cup, World Superbike, atau bahkan Grand Prix.

Galang Hendra mencuri perhatian di World Supersport 300 dengan memenangi balapan keduanya di kejuaraan pada putaran terakhir musim 2017 di Jerez. Musim berikutnya, pemuda 23 tahun itu kembali menang di Brno pada musim penuh pertamanya di WorldSSP 300.

Terakhir, Galang membalap di World Superpsort untuk Ten Kate Yamaha pada tahun 2021, di mana ia meraih 27 poin musim lalu, termasuk finis P13 pada Race 2 di Mandalika.

Saat ini, Indonesia memiliki satu pembalap di Grand Prix yaitu Mario Aji, yang memulai musim penuh pertamanya di Moto3 bersama Honda Team Asia.

Pembalap 18 tahun itu langsung mencuri perhatian dengan mengamankan start baris depan pada kualifikasi basah untuk Grand Prix Indonesia di Mandalika, membuat fans bersorak meneriakkan Super Mario.

Itu bisa dibilang menjadi satu-satunya sorotan penting dari musim debut Mario di Grand Prix. Namun dengan waktu yang masih panjang, bukan tidak mungkin ia mengikuti jejak Rio Haryanto sebagai pembalap Indonesia lainnya di puncak motorsport dengan berada di kelas MotoGP.