It’s Coming Home atau It’s Coming Rome? Perdebatan siapa yang akan menjadi juara dalam final Euro 2020 malam ini antara Inggris vs Italia sedang ramai. Tapi lebih dari sekadar pertarungan di lapangan hijau, kedua negara juga punya sejarah panjang rivalitas di paddock Formula 1, ajang balap mobil paling prestisius di dunia.

Sejak era awal Grand Prix tahun 1950-an, Italia dan Inggris menjadi fokus utama dalam persaingan Formula 1. Untuk saat ini saja, 9 dari 10 tim yang berlaga di musim 2021 berbasis entah itu di Inggris atau Italia. Ini bukan tanpa alasan, karena kedua negara memang menjadi kiblat Formula 1 sejak lama.

Dan jelang pertandingan Inggris vs Italia malam ini, Crash.net Indonesia coba merangkum rivalitas kedua negara di paddock F1.

Pada era awal Formula 1, Italia mendominasi dengan tiga gelar juara beruntun antara 1950-1952 (Alfa Romeo) dan 1953 (Ferrari), dengan dua Italiano menjadi juara dunia, yakni Nino Farina (1950) dan Alberto Ascari (1952-1953).

Inggris juga sudah berada di paddock Grand Prix saat itu, namun kebanyakan dari mereka hanyalah tim privatir yang membeli mobil dari pabrikan Italia seperti Ferrari atau Maserati.

Memasuki pertengahan dekade 1950-an, Inggris mulai menunjukkan tajinya dengan memenangi gelar konstruktor 1958 lewat Vanwall. Uniknya, Mike Hawthorn juara dunia pembalap tahun tersebut, justru menggunakan Ferrari.

Ini baru awalnya saja, karena invasi Britania Raya lewat kehadiran tim seperti Lotus, BRM, Cooper, Brabham, atau Tyrell mulai mengancam status quo pabrikan Italia di Formula 1. Salah satu tim paling revolusioner saat itu adalah Lotus, dengan Colin Chapman mengubah bagaimana Formula 1 saat itu.

Semua aspek disentuhnya, mulai dari pengenalan konsep sasis monokok dengan alumunium, aerodinamika mobil, sampai tim pertama yang mendapat sponsor korporat sepanjang dekade 1960-an.  Saat itu tercatat Italia hanya dua kali menjadi juara konstruktor, semuanya lewat Ferrari (1961 dan 1964).

Memasuki dekade 70-an, Inggris vs Italia kembali jadi fokus di paddock Formula 1, dengan semakin pesatnya perkembangan inovasi di Formula 1 melahirkan beberapa mobil ikonik. Mulai dari Lotus 79 dengan teknologi Ground-Effect, Brabham BT45B yang dijuluki ‘fan car’ sampai Tyrell P34 si mobil beroda enam.

Italia, yang saat itu bertumpu pada Ferrari juga cukup sukses saat itu. Mereka meraih gelar konstruktor empat kali, 1975-77 dan 1979. Berbeda dari tim Inggris, mereka lebih memfokuskan ke pengembangan mesin, seperti yang dikatakan Enzo Ferrari: “Aerodinamika hanyalah untuk mereka yang tidak bisa membangun mesin.”

Memasuki era 80 dan 90an, Williams dan McLaren mendominasi skena Formula 1 saat Ferrari mengalami penurunan. Tercatat Ferrari hanya memenangi dua gelar konstruktor dalam kurun waktu tersebut, yakni pada tahun 1982-1983.

Italia harus menunggu hingga 1999 untuk kembali berjaya di Formula 1. Namun itu adalah awal dari dominasi Michael Schumacher serta Ferrari dengan menyapu bersih gelar konstruktor dan pembalap antara 2000-2004. 

Babak baru Inggris vs Italia terjadi pada tahun 2007, saat itu McLaren tersangkut skandal spionase atas data-data Ferrari, yang membuat skuat Woking didiskualifikasi dari musim 2007.

Ferrari kembali memenangi gelar tahun 2008, tapi itu merupakan kali terakhir Italia merasakan kesuksesan di Formula 1. Setelahnya, tim yang berbasis di Inggris merajai Formula 1 sampai saat ini.

Berbicara soal gelar pembalap, Italia sendiri harus mengakui keunggulan Inggris. Tercatat sejak 1953, saat Alberto Ascari meraih gelar keduanya di F1, Italia tidak memiliki juara dunia lagi setelahnya.

Sebaliknya, Inggris merupakan negara paling sukses dengan torehan 20 gelar pembalap, dan mungkin akan bertambah menjadi 21 jika Lewis Hamilton meraih gelar kedelapannya tahun ini.

Untuk line-up pembalap musim 2021 ini, tercatat ada tiga pembalap, yakni Hamilton, Lando Norris, dan George Russell. Sementara Italia memiliki satu perwakilan lewat Antonio Giovinazzi, yang saat ini membela Alfa Romeo.