Itu menambah gelar Moto2 yang dimenangkan Francesco Bagnaia, yang saat itu membela VR46 pada 2018, dan menempatkannya di depan sesama anggota akademi dan juara Moto2 Franco Morbidelli, yang tahun 2020 menjadi runner-up.

Meski Bagnaia dengan cepat memuji pekerjaan akademi yang membantunya meraih gelar MotoGP, juga yang pertama bagi kombinasi pembalap-motor Italia sejak 1972, adik laki-laki Rossi, Luca Marini, yakin Pecco masih memiliki semua atribut yang dibutuhkan untuk menjadi juara.

Tapi untuk Marini pertanyaan yang lebih besar adalah apakah Bagnaia, seperti banyak pebalap Akademi VR46 lainnya, bisa melangkah lebih jauh sebelum mencapai kelas utama Grand Prix.

Who IMPRESSED and who was FUMING at Valencia Test? | MotoGP 2022

“Saya pikir semua orang menemukan jalannya karena Anda tidak membutuhkan Akademi, Anda tidak membutuhkan apa pun. Anda hanya perlu menjadi kuat, berbakat, banyak bekerja, memiliki pikiran yang cerdas, mental yang kuat. Dan Pecco menunjukkan semua ini, ”kata Marini, yang merupakan rekan setim Bagnaia di Moto2 dan sekarang membalap untuk tim VR46 di MotoGP.

“Menurut saya juga tanpa Akademi [dia] akan memenangkan [gelar] ini. Tapi saya tidak tahu apakah tanpa Akademi dia bisa melanjutkan karirnya di Moto3, ini mungkin pertanyaannya.

“Sama seperti untuk Franco, seperti untuk Marco [Bezzecchi], seperti untuk saya, karena tanpa Akademi mungkin saya tidak bisa masuk tim Pons di Kejuaraan Moto2 Eropa [pada 2015] dan ini adalah kunci untuk karir saya. Karena kalau saya tidak ada, menurut saya tidak mungkin juga bagi saya.

“Tapi mungkin Anda bisa mencari uang dengan cara lain, dengan ayah Anda, dengan manajer lain. Kamu bisa melakukannya. Jika Anda cukup menginginkannya, Anda bisa.

Dengan empat pebalap VR46 - Bagnaia, Morbidelli, Marini, Bezzecchi - kini berkompetisi di MotoGP, ditambah pemenang balapan Moto2 Celestino Vietti yang ingin bergabung dalam waktu dekat, Marini mengatakan Akademi telah melampaui ekspektasinya sendiri.

“Akademi membawa empat pembalap ke MotoGP. Kami semua mulai sangat jauh dari MotoGP. Kami tidak pernah berpikir untuk tiba di sini. Mungkin juga petinggi Akademi tidak menyangka kita akan tiba!

“Tapi kami tiba, kami di sini sekarang dan sekarang kami perlu memperbaiki organisasi, situasinya, karena menurut saya tidak akan mudah mengelola empat pembalap, saya harap lima di masa depan, berjuang untuk kemenangan di MotoGP.”

Sayangnya untuk Marini, pemenang balapan enam kali dan runner-up Moto2 2020, dia menjadi satu-satunya pembalap MotoGP dari akademi VR46 yang belum menjejaki podium.

Marini finis di tempat keempat dua kali musim ini dalam perjalanannya ke urutan ke-12 di klasemen, dengan dua start baris depan dan fastest lap di Aragon. 

Meski tidak mendapat alokasi motor spesifikasi terbaru dari Ducati, pembalap 25 tahun itu tetap unjuk gigi dengan memuncaki catatan waktu pada tes Valencia pekan lalu.

Marini yakin langkah selanjutnya yang realistis adalah mencoba masuk ke lima besar klasemen 2023, saat kejuaraan juga akan memperkenalkan Sprint Race hari Sabtu.

"Saya harap saya bisa berjuang untuk posisi teratas, tapi saya pikir jika Anda ingin berjuang untuk kejuaraan tahun depan, Anda harus finis tahun ini di lima besar," katanya. “Tapi sekarang finis P12 agak terlalu jauh, jadi buat langkah lain, finis di lima besar [tahun depan].

“Kami juga akan mengadakan Sprint Race. Ini mungkin sedikit mengubah situasi, jadi akan menarik dan kualifikasi akan menjadi lebih penting. Jadi saya harap saya bisa menemukan solusinya. Saya akan banyak berlatih untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik untuk kualifikasi.”

Marini dan Bezzecchi akan membalap Ducati GP22 tahun depan musim depan.