F1 GP Monaco, yang kembali ke kalender setelah absen dari kalender tahun lalu, menjadi sasaran kritikan para penggemar.

Balapan sepanjang 78 lap terlihat minim drama dan aksi, di mana Max Verstappen mendominasi balapan untuk mengklaim kemenangan pertamanya di Principality, dan jadi pemimpin klasemen F1 untuk pertama kali dalam kariernya.

F1 2021 | Monaco GP Review | Verstappen fights back!

Dengan kesempatan menyalip sangat terbatas - dan satu momen penting secara memalukan dilewatkan oleh Director TV  - banyak penggemar menyimpulkan balapan tersebut sebagai parade kecepatan tinggi selama 78-lap.

Juara dunia tujuh kali Lewis Hamilton telah menyerukan perubahan format akhir pekan di Monaco sebelum aksi akhir pekan itu berlangsung, setelah meramalkan bahwa penggemar F1 akan "melihat kereta pada hari Minggu". Dia tidak salah.

Dengan mobil F1 generasi terbaru yang lebih besar hanya membuat aksi menyalip semakin sulit, apakah sudah waktunya Formula 1 untuk memikirkan kembali romantisme ikoniknya dengan jalanan Monte Carlo?

Berikut adalah pandangan penulis F1 kami…

Ya - Saatnya Monaco membuat perubahan

Meski F1 GP Monaco telah menajdi balapan ikonik di kalender Formula 1 sejak awal, balapan hari Minggu yang membosankan seakan menggambarkan bagaimana Formula 1 telah melampaui jalanan Monte Carlo yang ikonik.

Kualifikasi tetap menjadi tontonan mengesankan di Monako, namun hal ini juga sama untuk trek lainnya. Terlebih, esensi dari semua balapan, termasuk Formula 1 adalah soal siapa yang menang di hari Minggu, bukan siapa yang meraih pole position lewat kualifikasi.

XPB_1088749_HiRes.jpg

Satu-satunya sorotan yang kami lihat di televisi adalah sepak terjang Mick Schumacher yang terlambat pada Nikita Mazepin di Hairpin. Selain itu, dan pertarungan Vettel dan Gasly yang secara konyol terlewat dari pantauan, tidak ada aksi atau peluang karena sempitnya sirkuit dan seberapa besar mobil F1 modern.

Bahkan di tahun 2018 ketika Daniel Ricciardo mengalami kegagalan ERS - yang memakan waktu beberapa detik per lap - Sebastian Vettel tidak bisa mendekati untuk melakukan manuver. 'Tantangan Monaco' juga sangat dilebih-lebihkan.

Pada balapan kemarin, sama sekali tidak ada periode safety car, ataupun bendera kuning, menunjukkan Monaco sudah tidak seganas sebelumnya. Tidak seperti Mugello, Imola, Suzuka, atau Spa-Francorchamps, yang memberikan tantangan jauh lebih besar, bahkan Sirkuit Jalanan Baku lebih menantang.

Tidak hanya treknya yang tidak cocok untuk F1, tetapi keseluruhan kemewahan dan glamornya juga tidak sesuai dengan olahraga di tahun 2021, juga tidak populer di kebanyakan fans.

Sebagai contoh, juara tenis legendaris Serena Williams diwawancarai oleh David Coulthard setelah balapan. Hal ini rasanya sama seperti Anda melihat Max Verstappen diwawancarai setelah Novak Djokovic memenangi Wimbeldon, sangat tidak relevan.

Penggemar tidak ingin terobsesi dengan selebritas yang sama sekali tidak relevan (dalam istilah F1) yang sayangnya dimainkan oleh akhir pekan GP Monaco dengan getaran 'kemewahan dan glamor'.

Bahkan jika F1 tidak melepaskan Monaco sepenuhnya, perubahan tata letak trek atau mungkin meminta Pirelli membawa ban Monaco yang dibuat khusus untuk memaksa pit stop ekstra dan variasi yang lebih besar dalam balapan akan disambut.

F1 GP Monaco akan selalu memiliki tempat tersendiri dalam sejarah F1, tetapi waktu terus berjalan.

Connor McDonagh

Tidak - Kualifikasi selalu jadi poin menarik

F1 GP Monaco sudah terlalu identik bagi Formula 1, telah menjadi permata dalam kalender selama lebih dari 70 tahun sejak menjadi bagian dari kejuaraan dunia pertama pada tahun 1950. Sejak itu, hanya tahun lalu balapan tidak digelar karena COVID-19, dan langsung kembali ke kalender musim 2021.

Bagi penggemar tradisional di F1, apakah ada balapan yang lebih ikonik dan tradisional dari F1 GP Monaco? Seluruh rangkaian akhir pekan menampilkan showbiz dan glamor yang menjadi ciri khas, dan masih menjadi balapan favorit di antara para pembalap.

2807263.0064.jpg

Balapannya memang bukan yang paling menarik, dan lebih terlihat seperti parace kecepatan tinggi, tapi ini hanyalah satu balapan dalam kalender yang semakin tahun semakin berkembang. Jelas tidak semua balapan akan menghadirkan pertarungan klasik, tetapi Monaco selalu memberi sensasi yang unik.

Adalah hari kualifikasi pada hari Sabtu yang membuat Monaco begitu istimewa dan membedakannya dari semua balapan lain di kalender.

Melihat pengemudi menguji diri mereka sendiri dan mendorong hingga batas dengan kecepatan yang membingungkan, dan mengetahui bahwa kesalahan sekecil apa pun akan memiliki konsekuensi bencana (tanyakan saja pada Charles Leclerc), ini hampir gila tetapi benar-benar epik.

Di era run-off area yang seolah tak berujung, Monaco tetap menjadi salah satu dari sedikit sirkuit yang masih menguji keterampilan pembalap sejati dan menghukum kesalahan. Dan seperti yang disorot akhir pekan lalu, selalu ada peluang tinggi untuk satu atau dua hasil kejutan.

Sementara F1 GP Monaco tahun ini kurang menarik dari segi balapan, hal itu tentu saja membuat pertarungan perebutan gelar lebih menarik dengan hasil yang tidak akan terjadi di sirkuit lain mana pun.

Lewis Larkam

Tidak - Terlalu ikonik untuk digusur, dimensi baru menonton balapan

Status F1 GP Monaco itu sudah terlalu besar dan ikonik, setara dengan Indy500 (IndyCar) Daytona 500 (NASCAR), atau Le Mans 24 jam (WEC), tentu akan sulit dibayangkan jika akhir pekan di Jalanan Monte Carlo hilang dari kalender Formula 1.

Balapannya lebih mirip seperti iring-iringan kecepatan tinggi yang cenderung minim aksi, alhasil kualifikasi di sini sudah menjadi seperti balapan itu sendiri. Para pembalap saat kualifikasi dituntut juga melakukan lap sempurna di Jalanan Monte Carlo yang sangat sempit, sedikit saja kesalahan bisa fatal, kejadian Charles Leclerc pekan lalu bisa dijadikan contoh.

Balapan juga lebih dari sekadar soal atraksi salip-menyalip di dalam trek. Menonton F1 GP Monaco mengantarkan kita ke dimensi lebih luas dari sebuah balapan, di mana strategi tim lebih berperan dibanding aksi overtake.

Sebagai contoh, kita bisa melihat bagaimana strategi overcut Sebastian Vettel oleh Aston Martin memberinya posisi trek, dan keunggulan dari Pierre Gasly serta Lewis Hamilton, yang sebelumnya diintai oleh empat kali juara dunia itu. Di sisi lain, strategi undercut Hamilton justru berbuah petaka di mana ia dikunci oleh Pierre Gasly dan kehilangan beberapa posisi.

Mungkin akan menarik jika Pirelli membawa ban khusus untuk GP Monaco, di mana para pembalap harus melakukan dua sampai tiga kali pit, yang jelas akan memberikan variabel tambahan ke balapan.

Balapan F1 di Moanco memang membosankan dan minim aksi, tapi itu mengajarkan saya untuk melihat balapan secara lebih dalam.

Derry Munikartono, Crash.net Indonesia

Bagaimana menurut anda? Beri tahu kami pendapat Anda di komentar di bawah ...