Formula 1 musim 2020 menjadi saat yang berat bagi hampir seisi paddock, tak terkecuali Sergio Perez. Selain ia harus berjibaku demi masa depannya di F1, pembalap Meksiko itu juga jadi pembalap F1 pertama yang terjangkit Covid-19.

Perez, yang saat itu membela Racing Point, harus absen balapan double-header di F1 GP Inggris dan 70th Anniversary di Silverstone setelah dirinya positif Covid-19 yang didapatnya setelah pulang kampung ke Meksiko untuk menjenguk ibunya di rumah sakit.

Dalam wawancara pertamanya dengan tim barunya, Red Bull jelang F1 musim 2021, Sergio Perez mengakui dirinya melalui masa-masa sulit ketika terjangkit Covid-19, di mana tidak sedikit kritikan yang ditujukan kepadanya.

“Bisa saya katakan, saya mengalami tahun (2020) yang sangat sulit,” ujar Perez dalam wawancara dengan Red Bull.

“Di tengah Corona, dan menjadi pembalap pertama yang terjangkit virus. Anda tahu, saat ini (tanggapan orang) sedikit lebih normal terhadap orang yang terkena virus tersebut. Namun pada saat itu, rasanya seperti saya adalah orang paling bodoh di muka bumi karena saya terkena virus. “Sangat sulit bagi saya untuk menghadapinya.”

Perez bukan yang terakhir

Setelah Sergio Perez, setidaknya ada lima pembalap F1 lagi yang terjangkit Covid-19 selama enam bulan terakhir. Mulai dari Lance Stroll, Lewis Hamilton, Lando Norris, Charles Leclerc, dan yang terbaru Pierre Gasly.

Covid-19 yang dialami Perez semakin menambah derita pembalap Meksiko itu. Karena di saat bersamaan, Checo juga tengah berjibaku untuk mencari tim baru musim 2021 setelah posisinya di Racing Point, yang musim 2021 menjadi Aston Martin, digantikan oleh juara dunia empat kali, Sebastian Vettel.

Pun demikian, Perez tampil brilian sepanjang tahun 2020 dengan menorehkan kemenangan pertamanya di GP Sakhir, dan menutup musim di posisi keempat klasemen. Tak lama berselang, Checo dipanggil Red Bull untuk jadi partner baru Max Verstappen.

“Ini juga adalah saat yang sangat genting dalam karir saya, karena di saat bersamaan ada masalah kontrak,” jelas Perez. “Pada akhirnya, saya kehilangan kursi di tim saya, tapi itu berakhir dengan sangat baik. Namun, saya tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.

“Saat itu terjadi, saya cukup tenang. Saya berpikir ‘Saya sudah memiliki karir yang hebat, dan saya sangat puas dengan diri saya sendiri. Namun, saya harus memberi yang terbaik tiap akhir pekan dan lihat apa yang terjadi selanjutnya.”

“Saat kesempatan membalap di Red Bull terbuka, terkadang itu terlihat lebih baik, terkadang jadi lebih buruk. Namun pada akhirnya, itu berhasil. Jadi, saya rasa kesempatan seperti ini hanya datang sekali dalam hidup Anda. Saya tahu itu, dan saya siap untuk memaksimalkannya.”