Yuki Tsunoda tersingkir dari kualifikasi pada balapan terakhir di Sirkuit Paul Ricard, melintir di exit Tikungan 2.

Dan ini bukan kecelakaan kualifikasi pertamanya, karena Rookie Jepang satu ini juga mengalami kecelakaan parah di Q1 GP Emilia Romagna, dan sesi Q3 GP Azerbaijan di Baku.

Berbicara menjelang Grand Prix Styrian akhir pekan ini, Tsunoda mengakui bahwa dia harus lebih santai di Q1 mengingat kecepatan mobil AlphaTauri yang dimilikinya.

“Biasanya, saya cenderung selalu mendorong keras dari awal Q1 yang tidak harus saya lakukan,” kata Tsunoda. “Tidak perlu melakukannya karena mobil kami secara konsisten memiliki kecepatan yang baik. Itu selalu punya potensi untuk lolos ke Q3 tapi saya cenderung selalu mendorong dari awal, sejak lap pertama.

“Baru-baru ini, dalam tiga balapan terakhir, saya melakukan dua kesalahan untuk alasan yang sama – mendorong terlalu keras dari dorongan pertama. Itu membuat seluruh kualifikasi selesai [lebih awal].

"Bisa dikatakan saya harus sedikit lebih santai, mengambil pendekatan yang lebih berbeda, untuk lebih santai. Dan juga, saya akan mengatakan saya akan membangunnya dan juga percaya diri sejak FP1.

“Kami akan melihat bagaimana pendekatan itu berhasil atau tidak. Jelas, saya harus mengubah pendekatan [saya] dan saya tidak ingin melakukan kesalahan lagi tetapi tetap saja, saya harus mendorong di kualifikasi untuk mendapatkan hasil yang baik sebanyak mungkin. Jelas, saya harus mengubah pendekatan [saya].”

Sebaliknya, rekan setimnya Pierre Gasly telah berkembang pada tahun 2021, maju ke Q3 di enam dari tujuh balapan sejauh ini. Tsunoda memuji pembalap Prancis itu atas pendekatannya pada kualifikasi dan "kepintaran" yang dia tunjukkan.

“Bagaimana dia mendekati setiap sesi sangat cerdas, terutama apa yang saya lihat di Prancis,” tambah Tsunoda. “Antara FP3 dan kualifikasi, kami melakukan langkah besar dalam pengaturan, perubahan pengaturan besar.

"Saya tidak akan mengatakan arah mana yang kami ubah tetapi dia lebih pintar di Q1 bahwa pada kesempatan pertama dia hanya mencoba merasakan keseimbangan dan melihat apa yang berbeda dari mobil.

“Dari sana, dia mulai membangun kecepatan. Meskipun dia mendapat pengalaman dari waktu yang lama di Formula 1, tetapi dia masih santai, merasakan mobil dan segera setelah dia mendapatkan keseimbangan dan merasakan keseimbangan, dia menggabungkan semuanya yang merupakan pendekatan yang berbeda bagi saya.

“Bagi saya, di Prancis, kami melakukan langkah yang sangat mirip dan saya tidak peduli dengan perubahan pengaturan yang saya gunakan dari dorongan pertama dan menabrak pembatas. Begitulah cara dia mendekati sesi dan juga kepintarannya menurut saya adalah kekuatannya.”