Menjalani akhir pekan terakhirnya bersama Ducati, Andrea Dovizioso mendapatkan sanjungan dari direktur olahraga tim, Paolo Ciabatti atas kesuksesannya bersama skuat Bologna. Sejak bergabung sebagai suksesor Valentino Rossi tahun 2013, Dovi bertransformasi menjadi calon kuat juara dunia di atas Desmosedici.

Puncaknya terjadi antara tahun 2017 sampai 2019, di mana Andrea Dovizioso berhasil membayangi Marc Marquez sebagai runner-up klasemen. Total, DesmoDovi meraih 14 kali kemenangan, dan naik podium 40 kali selama delapan tahun membela Ducati.

Bisa dibilang, Andrea Dovizioso merupakan pembalap tersukses Ducati setelah Casey Stoner. Namun, alotnya pembicaraan soal kontrak baru membuat pembalap Italia 34 tahun itu memutuskan untuk cabut dari tim yang melambungkan namanya. Meski tidak sesukses Stoner, Dovi tetap mendapatkan tempat tersendiri di hati para petinggi Ducati.

"Kami menikmati banyak kesuksesan bersama dengan Andrea Dovizioso. Dia adalah pembalap terlama dalam sejarah Ducati di MotoGP, delapan tahun berturut-turut bersama," ujar Ciabatti, yang bergabung dengan Ducati berbarengan dengan Dovizioso pada 2013.

"Memenangan 14 balapan dan menjadi runner-up selama tiga musim berturut-turut adalah sebuah pencapaian yang luar biasa, dan selalu menyedihkan saat hubungan seperti ini berakhir.

"Saya pikir jelas ada alasan untuk ini di kedua sisi, tapi mungkin juga benar bahwa setelah delapan tahun bersama, mungkin ada kebutuhan untuk menutup kisah lama dan coba melakukan sesuatu dengan cara berbeda, dengan energi baru.

"Kami menghargai delapan tahun bersama, dan hasil yang dicapai. Jelas, Andrea merupakan pembalap Ducati terbaik setelah Casey Stoner dalam hal memenangkan balapan bersama Ducati, dan ini adalah hal yang akan selalu kami ingat."

Akhir yang tidak ideal

MotoGP 2020 bisa dibilang menjadi kesempatan ideal bagi Andrea Dovizioso, terlebih setelah rival utamanya, Marc Marquez, mengalami cedera parah di Seri kedua MotoGP Jerez. Setelah itu, banyak yang menganggap Dovizioso serta Ducati sebagai favorit untuk meraih gelar 2020.

Namun, teori dan kenyataan justru berlawanan. Memang, DesmoDovi sempat memimpin klasemen setelah balapan di Misano, namun ia tak naik podium lagi sejak balapan di Red Bull Ring, pada seri keempat dari total 14 balapan di MotoGP musim 2020. Alhasil, Andrea Dovizioso tercecer di posisi keempat klasemen akhir dengan torehan 135 poin, terpaut 36 poin dari Joan Mir.

Namun, kondisi pandemi COVID-19 yang menyebabkan perombakan jadwal musim 2020, dan pembatasan tes serta development motor, membuat Andrea Dovizioso serta rekan satu timnya Danilo Petrucci mengalami kesulitan, khususnya untuk beradaptasi dengan ban belakang baru.

"Jelas Anda mungkin berpikir bahwa karena kecelakaan yang dialami Marc pada balapan pertama dan kemudian, sayangnya, ia tidak dapat kembali selama musim ini, kami bisa menjadi salah satu kandidat untuk mencoba memenangkan kejuaraan ini karena di tiga tahun sebelumnya kami berada di urutan kedua di belakang Marc bersama Andrea Dovizioso, ”tegas Ciabatti.

"Tetapi karena beberapa alasan - menurut saya format kejuaraan, balapan berturut-turut, sulitnya adaptasi motor kami dengan ban belakang baru Michelin, dan juga fakta bahwa gaya berkendara yang akrab dengan motor kami dengan paket sebelumnya adalah tidak bekerja dengan baik karena beberapa pembalap menyulitkan kami. "

“Tahun ini sedikit berbeda karena apa yang terjadi dengan Covid,” jelas Ciabatti. "Kami menjalani tes pramusim seperti biasa di Malaysia dan Qatar tetapi mungkin kami tidak dapat melakukan aktivitas [pengembangan] normal. Jadi yang pasti dalam kasus kami, tidak mudah untuk menyesuaikan motor kami dengan paket ban baru."

Turunkan enam motor, Ducati rengkuh titel konstruktor

Andrea Dovizioso dan Ducati boleh saja gagal merengkuh titel pembalap MotoGP musim 2020. Namun, tim justru menorehkan tinta emas dengan  juara dunia konstruktor. Dengan enam motor di grid, Ducati naik podium pada 8 dari 14 balapan, lebih banyak dari pabrikan lainnya. Dan bukan Dovi yang jadi pembalap dengan jumlah podium terbanyak, melainkan Jack Miller yang empat kali finis tiga besar.

Dovizioso sendiri dua kali naik podium, tapi ini lebih baik dari Petrucci, Francesco Bagnaia, dan Johan Zarco yang masing-masing menyumbang satu podium di musim 2020.

"Pada dasarnya, saya akan mengatakan kami kompetitif dan berjuang untuk podium di hampir semua balapan tetapi selalu dengan pembalap yang berbeda," kata Ciabatti.

"Kelima pebalap yang dikontrak pabrikan naik podium, termasuk Zarco dengan motor 2019. [Tapi] kami tidak bisa menjaga konsistensi. Pembalap yang berbeda di balapan berbeda berjuang untuk podium tapi tidak pernah sama orang.

"Sangat mengecewakan tidak bisa meraih gelar pebalap. Saya pikir konsistensi memainkan peran besar di Suzuki dan Joan Mir, mereka melakukan pekerjaan dengan baik. Jadi, angkat topi untuk mereka. "

Ducati jelas bukan satu-satunya pabrikan yang berjuang mengatasi inkonsistensi musim ini, dan seperti rival-rivalnya, pabrikan yang berbasis di Bologna ini berusaha untuk mengatasi penurunan performa di tahun 2021 dengan kedua pembalap anyar mereka, Miller dan Bagnaia.

“Jika Anda melihat hasil tahun ini [secara umum], ada pebalap yang mampu melakukan hal-hal hebat dalam satu balapan dan kemudian cukup tertinggal dalam balapan berikutnya. Jadi saya pikir semua orang kesulitan beradaptasi, tergantung kondisi trek dan dalam kasus Ducati kami kesulitan saat grip rendah," lanjut Ciabatti.

"Tapi kami belajar banyak musim ini dan kami memiliki beberapa ide untuk dikembangkan untuk masa depan dan mudah-mudahan tahun depan kami bisa konsisten di sebagian besar putaran, karena ini satu-satunya cara untuk memperjuangkan kejuaraan."

Hasil Ducati musim depan juga akan membantu menjawab pertanyaan apakah Andrea Dovizioso atau Desmosedici yang lebih pantas mendapatkan kredit selama delapan tahun terakhir.