MotoGP musim 2020 merupakan salah satu musim yang sangat menantang bagi Yamaha. Tim garpu tala boleh saja memenangi tujuh balapan, lebih banyak dua kali lipat dari tim manapun. Namun, pabrikan Jepang itu gagal menuntaskan musim dengan satupun gelar, entah itu pembalap, konstruktor, ataupun tim.

Seperti kita ketahui, Yamaha mendapatkan penalti 50 poin karena melanggar aturan homologasi mesin karena memakai dua pemasok katup berbeda pada awal musim. Hal ini mempengaruhi pertarungan gelar konstruktor MotoGP 2020 yang pada akhirnya dikuasai Ducati yang menorehkan 221 poin, sedang Yamaha hanya 204 poin (254 tanpa penalti).

Potongan poin juga berlaku untuk tim, di mana Petronas SRT mendapat potongan 37 poin dan tim Yamaha Factory dipotong 20 poin. Namun, ini tak berpengaruh banyak pada pertarungan tim di mana tim satelit finis kedua dengan 248 poin (285 tanpa penalti), dan tim pabrikan turun satu strip dari posisi lima jadi keenam dengan total 178 poin (198 tanpa penalti).

Yamaha memulai MotoGP 2020 dengan brilian lewat finis 1-2 di GP Spanyol di Jerez, dengan Fabio Quartararo unggul dari Maverick Vinales. Namun, hal ini menjadi awal petaka pabrikan Jepang di mana mereka menemukan serangkaian masalah pada katup mesin YZR-M1. Alhasil, mesin tersebut tak dipakai lagi dan tim beralih ke mesin spesifikasi lama.

Pun demikian, Yamaha masih berhasil memenangi 7 dari 14 balapan MotoGP 2020, dua kali lipat lebih banyak dari KTM dengan tiga kemenangan. Namun, inkonsistensi menjadi momok tim garpu tala sepanjang musim, dan membuat keempat pembalap Yamaha gagal meraih gelar pembalap.

Setelah mengawali MotoGP 2020 dengan sempurna, musim yang naik-turun dialami oleh Quartararo dan Vinales, di mana keduanya juga membutuhkan mesin ekstra. Alhasil, kedua pembalap finis di posisi kedelapan dan keenam di klasemen akhir.

Tragisnya lagi, Franco Morbidelli, satu-satunya pembalap yang memakai YZR-M1 spesifikasi 2019, justru tampil sebagai pahlawan tim garpu tala dengan memenangi tiga balapan, dan menuntaskan musim di posisi dua klasemen dengan 158 poin, selisih 13 dari Joan Mir dari Suzuki

"Kami mengalami pasang surut sepanjang tahun, jelas kami memulai dengan sangat baik di awal musim dengan satu-dua di balapan Jerez. Tapi saat kami memenangi balapan, segera di Jerez kami menemukan masalah utama kami," kata Direktur Yamaha MotoGP, Lin Jarvis.

Dan masalah utama kami tahun ini adalah kerusakan katup mesin yang kami derita di putaran pertama. Maverick sudah mengalaminya sejak FP1, lalu di balapan Valentino berhenti, kemudian Frankie Morbidelli berhenti di balapan kedua.

"Jadi, masalah ini telah menghantui kami sepanjang tahun. Itu jelas mengganggu kesempatan beberapa pembalap kami untuk menampilkan performa yang lebih baik, terkadang karena kami harus memodifikasi mesin, menurunkan performa mesin, dan kemudian kami menaruh banyak sekali mesin, setidaknya delapan mesin selama hampir sepanjang musim.

"Kami telah berada dalam situasi yang sangat aneh, penuh stres, dan sulit, khususnya bagi para pembalap . Akhirnya hal itu berdampak pada akhir tahun ketika kami memiliki resolusi ini di Valencia, dan mendapat penalti yang memengaruhi kejuaraan konstruktor dan tim tetapi untungnya tidak bagi pembalap.

"Ini adalah tahun yang sulit, untuk menghadapi Covid dan menangani masalah itu, rasanya seperti memiliki ransel yang sangat berat di punggung Anda.

“Positifnya, kami memenangi banyak balapan. Jadi motor kami jelas merupakan motor yang kuat tahun ini, mampu menang dalam banyak situasi berbeda. Tapi ini juga sedikit tidak biasa karena tim Petronas memenangkan enam balapan, sementara tim pabrikan hanya satu balapan.

“Tapi jelas YZR-M1 punya potensi dan mampu memenangkan balapan, tapi kami belum mencapai tujuan kami untuk memenangi kejuaraan dunia. Salut untuk Suzuki karena mereka sangat konsisten, mereka memiliki musim yang sangat bagus. Joan Mir telah menunjukkan kedewasaannya dan mereka memenangkan kejuaraan.

"Jadi, saya mengatakan kegagalan ini sepenuhnya dari pihak kami."

Inkonsistensi jadi musuh utama

Inkonsistensi menjadi musuh Yamaha sepanjang MotoGP 2020, di mana performa YZR-M1 berbeda dari satu trek ke trek berikutnya. Biasanya terkait dengan grip, yang juga kerap melanda Yamaha dalam beberapa musim terakhir. Anehnya, hal ini terjadi di beberapa balapan back-to-back, di mana para pembalap meraih dua hasil kontras meski balap di sirkuit sama.

Pandemi Covid-19 juga membuat kondisi Yamaha semakin terjepit, karena mereka tak bisa menggunakan jasa pembalap bintang, Jorge Lorenzo, secara optimal sebagai pembalap tes.

"Sayangnya, [inkonsistensi] ini menjadi masalah yang kami hadapi selama tiga tahun terakhir, dan di beberapa tahun lainnya lebih ekstrim dari tahun ini. Kami selalu bermasalah dengan grip, traksi, dan karena itu juga dengan pengereman, "lanjut Jarvis.

"Saya pikir kami cukup dirugikan tahun ini, kami memiliki spesifikasi motor baru dengan mesin dan sasis baru, tetapi kami hampir tidak melakukan pengujian apapun selain tes resmi dengan pebalap tes yang dikontrak pabrik.

"Kami memiliki Jorge Lorenzo sebagai pembalap tes, dan kami memiliki program tes penuh yang direncanakan tahun ini. Tapi kami menggunakan tim penguji Jepang dengan beberapa staf Eropa dan Jorge, pada kenyataannya kami hanya menjalankannya selama dua hari di Sepang dan kemudian tes Portimao.

"Jadi semua kegiatan yang kami rencanakan untuk dilakukan tahun ini, sayangnya, dibatalkan [karena Covid]. Dan saya pikir itu pasti negatif bagi kami tahun ini karena kami tidak dapat mengatasi masalah, dan saya masih berpikir Jorge bisa menjadi pembalap tes yang sangat baik untuk melakukan pekerjaan itu. "

Tidak stabilnya performa YZR-M1 tahun 2020 juga menimbulkan pertanyaan pada Quartararo dan Vinales, yang akan jadi ujung tombak tim musim 2021. Di sisi lain, Morbidelli yang dibekali motot 2019 justru meraih dua kemenangan, tiga podium dan 81 poin selama lima putaran terakhir. Di sisi lain, Vinales cuma 36 poin dan Quartararo hanya 12 poin dalam fase yang sama.

"Secara desain, motor ini tidak mampu memberikan performa yang konsisten di semua trek balap. Namun, itu tidak secara langsung terkait dengan masalah katup. Itu masalah lain, desain fundamental," aku Jarvis.

"Secara statistik, YZR-M1 2020 meraih lebih banyak kemenangan. Namun patut dicatat jumlah M1 pabrikan tiga kali lebih banyak dibandingkan A-Spec."

Jarvis menjelaskan bahwa keseimbangan antara pengembangan motor dan berpegang pada apa yang Anda ketahui selalu berisiko, tetapi ia juga menekankan bahwa motor yang tidak diupdate tidak akan bertahan lama di MotoGP.

"Itu tergantung pada trek dan keadaan, tapi terkadang untuk melangkah maju Anda juga kehilangan sesuatu dalam prosesnya dan sangat sulit untuk terus berkembang," katanya.

"Dan saat Anda menggunakan Spesifikasi Pabrik, Anda perlu melakukan progress. Anda tidak bisa bertahan dengan apa yang Anda miliki, dan berharap untuk menjadi kompetitif di masa depan.

"Jadi mungkin pada kesempatan ini saya pikir Frankie telah melakukannya dengan sangat baik, dan kami juga melihat tahun lalu dalam kasus Fabio. Dia tidak memenangkan balapan tapi dia sangat kuat dengan paketnya, dan terkadang bekerja dengan paket yang Anda miliki lebih baik daripada terus berkembang dan mencari serta mencari hal-hal baru.

"Jadi, keduanya selalu berlawanan dan seimbang (punya sisi positif dan negatif)."

Blunder pemilihan supplier katup

Sebelum MotoGP 2020, departemen mesin Yamaha sudah menjadi sorotan soal kurangnya top speed dibanding pabrikan rival. Dan saga soal katup mesin ini membuat pabrikan garpu tala semakin disorot.

Pun demikian, meski tidak ada perubahan desain mesin yang diizinkan untuk pabrikan top hingga awal 2022, Jarvis optimistis oleh kinerja mesin saat ini saat dipasang dengan katup yang benar.

"Saya tidak mengharapkan adanya perubahan besar pada departemen mesin kami dalam waktu dekat," kata Jarvis.

"Saya pikir kesalahan yang kami buat tahun ini terjadi pada pertengahan tahun lalu,  ketika pemasok katup kami memberi tahu kami bahwa mereka tidak dapat melanjutkan produksi katup yang ingin kami gunakan. Saat itu, Yamaha mengambil keputusan untuk memiliki dua pemasok katup, dan itu adalah kekeliruan kami terhadap regulasi.

"Jadi saya pikir dalam hal departemen mesin, mesin kami sebenarnya memiliki performa yang dapat diandalkan selama musim ini, terlepas dari masalah beberapa batch katup yang kami miliki.

"Beberapa mesin kami telah menempuh jarak lebih dari 3.000 kilometer, itu sangat luar biasa. Dan kami harus melakukannya karena kharus memarkir seluruh mesin.

"Jadi saya pikir perhatian utama untuk perbaikan di masa depan yang akan kami lakukan adalah perhatian yang jauh lebih kaku terhadap detail, dalam cara kami merencanakan musim. Mengecek kembali kualitas komponen, dan kembali mengecek regulasi. Jadi, lebih banyak lagi konfirmasi ulang diperlukan.

"Untuk musim 2021, sejujurnya kami cukup percaya diri dengan mesin kami karena reabilitas yang kami lihat saat menggunakan katup yang tepat untuk sebagian besar musim ini.

"Seperti yang Anda ketahui, regulasi memaksa kami untuk terus menggunakan mesin tersebut tahun depan. Kami selalu kehilangan tenaga kuda, sehingga kami bisa melakukanya dengan tenaga kuda lebih besar. Namun, kami harus menunggu hingga 2022 untuk dapat kembali mendevelop mesin. "

Untuk musim 2021, Yamaha mempertahankan line-up pembalapnya. Namun Rossi dan Quartararo bertukar tempat, sedang Cal Crutchlow diplot sebagai pembalap tes menggantikan Lorenzo.

 

Comments

Loading Comments...