MotoGP 2025: Sepuluh Pembalap Terbaik Versi Crash.net
Crash.net memilih 10 pembalap terbaik dari musim MotoGP 2025.

Musim MotoGP 2025 merupakan tahun yang luar biasa bagi Marc Marquez dan Ducati, tetapi juga ada beberapa pembalap lain yang tampil impresif sepanjang musim.
Semua pujian di tahun 2025 pantas disematkan ke Marc Marquez, yang menyelesaikan comeback luar biasa dari cedera parah tahun 2020 untuk memenangkan gelar MotoGP ketujuhnya, dan yang pertama bersama Ducati.
Marquez nyaris tidak memiliki lawan sepadan, meski adiknya Alex sempat memberi tantangan di paruh pertama musim. Sementara itu, Aprilia dan Marco Bezzecchi datang sebagai penantang serius di paruh kedua.
Selain itu, ada juga rookie yang menonjol, pembalap yang akhirnya tampil gemilang, dan pembalap yang mampu tampil impresif dengan motor yang biasa saja.
Berikut adalah peringkat 10 pembalap terbaik musim 2025 versi Crash.net, diurutkan secara menurun.

10. Luca Marini, Honda HRC
Hasil terbaik Grand Prix - P5
Hasil terbaik Sprint Race - P4
Posisi Klasemen - P13, 142 Poin
Tidak banyak antusiasme ketika Luca Marini terpilih dari sejumlah kecil kandidat untuk menggantikan Marc Marquez di tim pabrikan Honda pada tahun 2024. Penampilannya di tim satelit Ducati memang menghasilkan beberapa podium, tetapi ia gagal menunjukkan performa sebaik rekan-rekannya seperti Marco Bezzecchi, Enea Bastianini, dan bahkan Fabio Di Giannantonio.
Tahun 2024 yang cukup mengecewakan memang membaik menjelang akhir musim, tetapi Marini tampak jauh lebih kompetitif seiring dengan peningkatan Honda pada tahun 2025.
Empat finis 10 besar dari tujuh putaran pertama memberikan landasan yang hampir tidak dapat ia bangun setelah kecelakaan serius di uji coba Suzuka 8 Hours membuatnya absen selama tiga putaran. Tetapi ketika ia kembali, ia meningkatkan performanya, meraih dua kali finis kelima di Hungaria dan Indonesia, serta finis keempat di sprint Hungaria.
Ia mengakhiri tahun hanya terpaut enam poin dari pemenang balapan Honda, Johann Zarco, membuktikan dirinya sebagai pembalap yang dapat diandalkan dan aset pengembangan yang sangat berharga bagi HRC.

9. Raul Fernandez, Trackhouse Racing Aprilia
Hasil terbaik Grand Prix - P1 (Australia)
Hasil terbaik Sprint Race - P2 (Australia)
Posisi Klasemen - P10, 172 poin
Banyak harapan tertumpu pada Raul Fernandez sebagai satu-satunya pembalap Aprilia yang kembali di tahun 2025. Namun setelah delapan putaran, ia hanya meraih dua finis di posisi 10 besar, tertinggal dari rekan setimnya yang masih rookie, Ai Ogura, dan bahkan mendapat kritik dari CEO Aprilia, Massimo Rivola.
Trackhouse berulang kali membantah hal itu, tetapi uji coba yang dilakukan Manu Gonzalez di Aragon dengan motor RS-GP tim tersebut menghadirkan peringatan yang 'menampar' Fernandez.
Mulai dari Grand Prix Italia dan seterusnya, Fernandez menunjukkan performa terbaiknya di MotoGP, secara konsisten masuk ke posisi 10 besar sebelum meraih podium pertamanya di sprint Indonesia.
Ia memanfaatkan peluangnya di Australia untuk meraih kemenangan Grand Prix pertamanya, dan kemudian tampil gemilang dengan finis kedua di Valencia melawan Marco Bezzecchi hanya seminggu setelah kecelakaan besar yang membuatnya absen di Portugal.
Fernandez mencetak 106 poin lebih banyak di tahun 2025 dibandingkan tahun lalu. Potensi yang dilihat Trackhouse akhirnya muncul, selanjutnya dia harus menjadikan performa paruh kedua 2025 sebagai performa dasarnya di tahun 2026.

8. Johann Zarco, LCR Honda
Hasil terbaik Grand Prix - 1st (Prancis)
Hasil terbaik Sprint Race - 4th
Posisi Klasemen - P12, 148 poin
Meninggalkan motor terbaik di grid untuk bergabung dengan Honda tahun lalu adalah langkah berani bagi seorang pembalap yang memasuki senja karier MotoGP-nya. Namun Johann Zarco adalah satu-satunya bintang HRC di tahun 2024 yang menyedihkan.
Pada paruh pertama musim 2025, ia terus menjadi andalan Honda, meraih posisi tujuh besar untuk LCR di dua putaran pertama sebelum mencetak hasil terbaik merek tersebut dalam lebih dari setahun di Qatar dengan finis keempat.
Momen puncak musimnya adalah kemenangan kandang yang populer di Grand Prix Prancis; momen bersejarah yang dibantu oleh prediksi brilian LCR tentang kondisi cuaca di awal balapan.
Finis di posisi kedua di Silverstone melengkapi musim semi yang tak akan pernah ia lupakan, meskipun hasilnya menurun di paruh kedua musim seiring dengan peningkatan yang perlahan-lahan diterapkan. Dengan kontrak baru yang berlaku hingga 2027, potensi hasil Zarco di Honda tetap tinggi.

7. Francesco Bagnaia, Ducati Corse
Hasil terbaik Grand Prix - P1 (America, Japan)
Hasil terbaik Sprint Race - P1 (Japan, Malaysia)
Posisi Klasemen - P5, 288 Poin
Ini adalah penilaian yang mungkin terlalu rendah bagi sebagian orang atau terlalu tinggi bagi sebagian lainnya.
Tetapi tidak dapat disangkal, dibandingkan dengan ekspektasi tinggi yang ditetapkan oleh Bagnaia, musim 2025 benar-benar sebuah bencana.
Juara dunia dua kali itu tidak pernah benar-benar menyatu dengan GP25, secara konsisten kesulitan dengan hal pengendalian bagian depan motor, dan mendapat pukulan ganda karena menyaksikan rekan setimnya, Marc Marquez, dengan mudah mendominasi dengan motor yang sama.
Jika dilihat ke belakang, Bagnaia justru memulai musim 2025 dengan cukup solid. Ia naik podium pada lima dari enam balapan pertama, termasuk kemenangan di Amerika setelah Marquez terjatuh saat memimpin. Tiga kali finis di posisi ketiga menyusul di Aragon, Assen, dan Sachsenring, sebelum musimnya jungkir balik secara dramatis.
Hanya ada satu finis lima besar antara Brno dan Misano, tersingkir di Q1 di posisi ke-15 dan ke-21 di Hungaria dan Barcelona, sebelum ia mendominasi akhir pekan Motegi dengan Pole Position, Sprint Race, dan kemenangan Grand Prix.
Setelah itu, musimnya kembali tak beraturan dengan bencana di Indonesia dan Australia, kemenangan Sprint Race dari pole di Sepang, namun rentetan hasilnon-skor terjadi pada hari Minggu antara Mandalika dan Valencia.
Bagnaia tertinggal 257 poin dari Marquez di klasemen dan sama sekali tidak tahu harus menjelaskan masalah apa yang dihadapinya.
Di tahun yang awalnya diharapkan dapat bersaing dengan Marquez untuk memperebutkan gelar juara, ia justru mengakhiri tahun tersebut dengan banyak pertanyaan besar tentang masa depannya di Ducati.

6. Fermin Aldeguer, Gresini Racing Ducati
Hasil terbaik Grand Prix - P1 (Indonesia)
Hasil terbaik Sprint Race - P2 (Indonesia)
Posisi Klasemen - P8, 214 poin
Ducati telah mengikat Fermin Aldeguer dengan kontrak bahkan sebelum musim Moto2 2024 dimulai. Dan pada satu titik, promosi itu tampak terburu-buru, karena ia kesulitan untuk memberikan tantangan serius dalam perebutan gelar juara.
Naik ke MotoGP dengan Ducati yang berusia satu tahun di Gresini Racing, persaingan untuk gelar Rookie of the Year tampak akan sulit melawan Ai Ogura.
Namun, di bawah bimbingan Crew Chief Frankie Carchedi, Aldeguer segera menunjukkan performa yang mengesankan. Dua kali finis di lima besar di Qatar diikuti oleh dua kali podium di Prancis.
Ia kembali naik podium di Austria setelah serangkaian finis di zona poin yang solid, sebelum meraih kemenangan perdana di Indonesia. Berbekal kemampuan dalam mengelola keausan ban, ia menggunakannya untuk mendominasi sepenuhnya di Mandalika.
Ia naik podium Sprint Race di Sepang sebelum penalti tekanan ban menggagalkannya, tetapi ia meraih finis lima besar di dua putaran terakhir dan dengan meyakinkan meraih gelar Rookie of The Year.
Ducati tahu bahwa mereka memiliki sesuatu yang istimewa pada diri Aldeguer. Meskipun demikian, ia melampaui ekspektasi untuk menjalani musim yang lebih kuat dari yang diperkirakan dan tiba-tiba memposisikan dirinya sebagai pemain top di pasar pembalap 2027.

5. Pedro Acosta, KTM Factory Racing
Hasil terbaik Grand Prix - P2
Hasil terbaik Sprint Race - P2
Posisi Klasemen - P4, 307 poin
Dari sudut pandang pribadinya, musim 2025 merupakan kekecewaan besar bagi Pedro Acosta.
Setelah tampil gemilang di musim perdananya, banyak yang menganggap Acosta sebagai calon juara di tahun 2025, dan setidaknya mampu meraih beberapa kemenangan balapan. Namun, ia kini telah melewati dua musim penuh tanpa pernah naik podium teratas.
RC16 2025 jelas tidak mampu memenuhi ekspektasi di paruh pertama musim, dan rasa frustrasi memuncak bagi pembalap Spanyol itu ketika ia menyadari bahwa aspirasinya kemungkinan besar tidak akan terpenuhi.
KTM melakukan beberapa peningkatan pada motornya untuk paruh kedua musim, tetapi perubahan pola pikir yang memungkinkan Acosta menjadi ancaman podium yang konsisten. Ia baru meraih podium pertamanya di putaran ke-12 di Brno, dan berhasil meraih delapan podium di kedua balapan dalam 10 event terakhir.
Ia berhasil melampaui pemenang dua balapan, Francesco Bagnaia, di klasemen ke posisi keempat, dan unggul 152 poin dari pembalap KTM terbaik berikutnya. Acosta juga menjalani musim penuh kedua tanpa terkalahkan oleh rekan setimnya di kualifikasi.
Acosta percaya bahwa ia "berjuang untuk sesuatu yang sia-sia" pada tahun 2025. Dan meskipun itu mungkin benar, ia sekali lagi menunjukkan mengapa ia dianggap sebagai talenta spesial, dan betapa besarnya kehilangan KTM jika 2026 terbukti menjadi musim terakhirnya bersama merek tersebut.

4. Fabio Quartararo, Yamaha Factory Racing
Hasil terbaik Grand Prix - P2 (Spanyol)
Hasil terbaik Sprint Race - P2 (Barcelona)
Posisi Klasemen - P9, 201 poin
Ada banyak antusiasme seputar Yamaha menjelang balapan pertama, setelah pramusim yang kuat dengan M1 mengisyaratkan bahwa pabrikan Jepang ini mampu bersaing memperebutkan podium secara semi-reguler. Yamaha tentu saja memiliki tahun yang lebih baik daripada 2024, tapi itu sebagian besar terjadi karena Fabio Quartararo mampu memaksimalkan potensi motor tersebut melebihi yang seharusnya.
Hal itu sangat terlihat antara Qatar dan Silverstone, di mana ia membawa M1 ke barisan depan lima kali berturut-turut - empat di antaranya dari pole position - dan finis kedua di Grand Prix Spanyol. Ada potensi podium di Le Mans tanpa kecelakaan dalam kondisi yang sulit, sementara kemenangan di Silverstone secara kejam digagalkan oleh kerusakan perangkat ride-height motor.
Kecepatan satu putaran memungkinkan Quartararo membawa M1 meraih hasil balapan yang seharusnya tidak bisa diraihnya, termasuk finis lima besar yang kuat di Jerman, Barcelona, dan Malaysia, dengan beberapa podium Sprint Race sebagai tambahan.
Namun, kurangnya tenaga dan grip YZR-M1 berarti tidak banyak yang bisa dia lakukan. Dia unggul 122 poin dari pembalap Yamaha terbaik berikutnya di klasemen dan merupakan satu-satunya perwakilan merek Jepang yang masuk 10 besar di kejuaraan.
Seiring Yamaha beralih ke era V4 barunya, kesabaran Quartararo untuk kembali memiliki paket yang mampu memenangkan balapan tampaknya telah habis. Meskipun penantiannya untuk kemenangan pertama sejak Grand Prix Jerman 2022 semakin panjang, tidak ada kekurangan pengingat di tahun 2025 tentang kaliber pembalap Quartararo yang masih ada di MotoGP.

3. Alex Marquez, Gresini Racing Ducati
Hasil terbaik Grand Prix - P1 (Spain, Barcelona, Malaysia)
Hasil terbaik Sprint Race - P1 (Britain, Portugal, Valencia)
Posisi Klasemen - P2, 467 point
Memilih pembalap terbaik kedua dimusim MotoGP 2025 ksangat sulit karena Alex Marquez benar-benar menjalani musim yang brilian. Setelah musim 2024 yang sulit dengan Ducati GP23, lompatan ke GP24 langsung membuka potensi Alex Marquez.
Memulai musim dengan tiga kali finis di posisi kedua, kemenangan pertamanya diraih di Jerez, sementara podium di Sprint dan Grand Prix terus berlanjut hingga jeda musim panas.
Di Brno, ia melakukan kesalahan yang tidak perlu sehingga mencatatkan dua kali DNF (tidak menyelesaikan balapan), sementara tabrakan dengan Joan Mir membuatnya mendapat penalti yang menghambatnya di Austria pada akhir pekan di mana ia memiliki kecepatan untuk meraih podium.
Kecelakaan lain Hungaria dan saat memimpin Sprint Race di Barcelona menjadi coreng dari musimnya yang luar biasa. Namun, responsnya di Grand Prix Catalan, dengan menahan tekanan besar dari Marc Marquez di GP25 pabrikan untuk meraih kemenangan keduanya tahun ini, mengingatkan kita pada pembalap hebat yang telah ia capai.
Kemenangan ketiga diraih di Malaysia, serta dua kemenangan sprint di dua putaran terakhir. Ia mencetak hampir 300 poin lebih banyak daripada yang ia raih pada tahun 2024 untuk mengamankan posisi runner-up yang meyakinkan di klasemen dan mendapatkan GP26 pabrikan untuk tahun depan.
Alex Marquez akan selalu dibandingkan dengan kakak laki-lakinya, tetapi musim 2025 membuktikan tanpa keraguan levelnya sebagai salah satu pembalap terbaik dunia.

2. Marco Bezzecchi, Aprilia Factory Racing
Hasil terbaik Grand Prix - P1 (Britain, Portugal, Valencia)
Hasil terbaik Sprint Race - P1 (Misano, Indonesia, Australia)
Posisi Klasemen - P3, 353 poin
Pada musim panas 2024, Aprilia membuat gebrakan dengan merekrut juara dunia Jorge Martin. Penunjukan Marco Bezzecchi terasa lebih seperti Aprilia memastikan sosok pembalap nomor dua yang mumpuni, daripada pembalap yang bisa naik ke posisi pemimpin tim.
Namun, dihadapkan dengan serangkaian cedera yang dialami Jorge Martin, Bezzecchi dengan cepat beradaptasi menjadi referensi pengembangan Aprilia dan menjadi ujung tombak tim di lintasan.
Awal musim cukup solid, dengan kecepatan balapan yang kuat namun dihambat oleh hasil kualifikasi yang kurang memuaskan.
Segalanya mulai berjalan lancar di Silverstone, di mana ia bangkit dari posisi ke-11 di grid untuk memenangkan Grand Prix hanya beberapa hari setelah Martin terlibat dalam perselisihan kontrak yang rumit dengan Aprilia.
Tes Aragon beberapa minggu kemudian terbukti sangat penting, karena Aprilia berhasil mengatasi masalah stabilitas pengereman. Bezzecchi finis kelima di Mugello, sebelum meraih podium ganda di Assen, dan bersaing ketat dengan Marc Marquez untuk meraih kemenangan di Grand Prix.
Hal itu menjadi hal yang biasa, dengan Bezzecchi naik podium di balapan sprint atau grand prix dalam 10 dari 12 putaran terakhir setelah Grand Prix Belanda. Absennya Marquez karena cedera, setelah Bezzecchi memicu tabrakan dengannya di Indonesia, membuka jalan bagi kemenangan beruntun di Portugal dan Valencia, sementara lima pole position menunjukkan kehebatannya dalam time attack.
Sama seperti Alex Marquez, Bezzecchi jarang melakukan kesalahan, meskipun ketika ia melakukannya, kesalahan tersebut cenderung merugikannya kesempatan untuk meraih podium. Memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut akan sangat penting jika ia memiliki aspirasi untuk memperebutkan gelar juara dunia pada tahun 2026.
Ia telah membuktikan bahwa ia mampu memenangkan balapan sebelumnya ketika ia masih menjadi pembalap tim satelit Ducati. Namun, melakukan hal itu dengan mesin yang sama sekali berbeda, di tengah drama besar di luar lintasan, adalah bukti pertumbuhan Bezzecchi sekaligus pekerjaan yang dilakukan Aprilia pada tahun 2025.

1. Marc Marquez, Ducati Corse
Hasil terbaik Grand Prix - P1 (Thailand, Argentina, Qatar, Aragon, Italy, Netherlands, Germany, Czechia, Austria, Hungary, Misano)
Hasil terbaik Sprint Race- P1 (Thailand, Argentina, America, Qatar, Spain, France, Aragon, Italy, Netherlands, Germany, Czechia, Austria, Hungary, Barcelona)
Posisi klasemen - P1, 545 poin
Jika Anda mengharapkan orang lain di posisi nomor satu, maka Anda benar-benar belum memperhatikan di tahun 2025.
Tidak diragukan lagi bahwa Marc Marquez memasuki musim 2025 sebagai favorit untuk memenangkan gelar juara dunia, sekarang ia berpasangan dengan tim pabrikan Ducati.
Namun cara dia melakukannya, memenangkan tiga dari empat Grand Prix pertama, kemudian meraih tujuh akhir pekan dengan 37 poin dari Aragon hingga Hungaria, mengklaim 11 kemenangan Grand Prix secara keseluruhan dan 14 Sprint Race dalam 18 putaran yang dia ikuti, menggambarkan tingkat dominasi yang belum pernah kita lihat sejak dia terakhir kali menjadi juara dunia pada tahun 2019.
Ada kesalahan di awal musim, di Amerika dan Spanyol, tetapi itu dengan cepat diatasi, dengan satu-satunya kegagalan finis yang disebabkan oleh dirinya sendiri setelah itu adalah kecelakaan saat memimpin Sprint Race Misano. Yang lebih mengesankan adalah hasilnya dibandingkan dengan Pecco Bagnaia dan Fabio Di Giannantonio di GP25 lainnya, karena keduanya kesulitan menemukan konsistensi pada paket tersebut.
Marquez kembali menunjukkan performa terbaiknya seperti sebelum cedera. Namun, melakukan hal itu di usia 32 tahun setelah cedera serius adalah sesuatu yang jarang terlihat dalam olahraga.
Akhir musimnya yang kurang beruntung di Indonesia, setelah tabrakan yang dipicu oleh Marco Bezzecchi, membuat kita kehilangan kesempatan untuk melihat apa yang bisa ia lakukan tanpa tekanan kejuaraan dunia.
Meskipun ancaman dari Aprilia semakin meningkat, sulit untuk membayangkan—asalkan ia tetap fit—bagaimana Marquez bisa dikalahkan dalam performanya saat ini bersama Ducati.


.jpg)