Fabio Quartararo, yang memuncaki klasemen MotoGP hampir sepanjang musim, kehilangan keunggulan atas Francesco Bagnaia di Phillip Island setelah tersingkir dari balapan.

Defisit yang harus dia pikul kemudian bertambah menjadi 23 poin setelah Bagnaia menang di Sepang, menempatkan Quartararo wajib menang di Valencia pada hari Minggu sementara Bagnaia harus finis lebih rendah dari P14.

Secara realistis, gelar sudah berada di tangan Bagnaia. Namun, apapun bisa terjadi di MotoGP.

Sebagai contoh, Nicky Hayden menuju Grand Prix Valencia 2006 tertinggal delapan poin dari Valentino Rossi, namun secara mengejutkan The Doctor terjatuh dari balapan dan finis ke-13, sementara Nicky Hayden finis ketiga yang cukup untuk meberinya keunggulan lima poin.

Jumlah poin yang harus dikejar Quartararo memang jauh lebih tinggi dari Hayden, tapi Lin Jarvis dari Yamaha menolak untuk mencoret timnya dari persaingan.

"Kami masih dalam pertarungan," kata Jarvis. “Kami seharusnya senang tentang itu. Anda tidak pernah tahu, tetapi kami harus memenangkan perlombaan, yang tidak mudah, dan saingan kami harus mengalami semacam kemunduran, yang juga bukan cara ideal untuk menang… dalam olahraga ini apapun bisa terjadi.

“Ketika kami pergi ke Valencia pada tahun 2006 Valentino hampir menyelesaikan formalitas dengan memenangkan balapan tetapi hal yang tidak terpikirkan terjadi, Valentino jatuh dan Nicky mengambil gelar.

"Saya tahu Valencia adalah trek yang sangat sulit, jadi apa pun bisa terjadi."