Meski tidak memiliki mobil tercepat di sebagian besar musim, Max Verstappen menikmati musim F1 2022 yang menjadi rekor.

Verstappen memenangkan 15 dari 22 balapan, merebut gelar dengan lima balapan tersisa pada Grand Prix Jepang.

Verstappen vs Perez: Has their relationship gone bad?

Ferrari dan Charles Leclerc seharusnya memberi perlawanan lebih dekat, tetapi kombinasi dari masalah reabilitas, kesalahan strategi dan blunder pembalap membuat mereka tidak pernah memiliki peluang.

Mungkin tidak ada pertarungan yang menarik untuk gelar utama, tetapi masih banyak yang bisa dibicarakan saat kita melihat kembali ke tahun 2022.

Pembalap terbaik tahun ini: Max Verstappen

Dari semuanya, mungkin ini adalah penilaian yang paling mudah diambil karena musim F1 2022 benar-benar menjadi milik Verstappen.

Sampai liburan musim panas, secara statistik, Ferrari pada dasarnya memiliki mobil yang lebih baik, khususnya pada kualifikasi di mana Charles Leclerc menjadi jagoan pole tahun ini.

Namun Verstappen selalu bisa berada di puncak podium pada Minggu sore, dan itu yang terus dilakukannya untuk membangun keunggulan besar di klasemen.

Dia menangkis Leclerc di Arab Saudi dan Miami sementara dia menahan tekanan besar dari Carlos Sainz di Grand Prix Kanada.

Beberapa kemenangan Verstappen juga didapat dari luar enam besar, menang dari P10 grid di Hungaroring dan P14 di Spa-Francorchamps.

Begitu Red Bull mengambil langkah maju dalam performa langsung, dia tak terbendung, memenangkan sembilan dari 11 balapan terakhir.

Pembalap paling mengesankan: Lando Norris

Meskipun dia hanya berdiri di podium sekali pada tahun 2022, Lando Norris secara konsisten tampil impresif di McLaren yang punya performa buruk.

McLaren memulai tahun di Bahrain dengan mobil paling lambat di grid saat Norris dan Daniel Ricciardo melawan duo Williams di belakang grid.

Pada ronde keempat, Norris finis di podium di Grand Prix Emilia Romagna. Norris adalah satu-satunya pembalap di luar tiga tim teratas yang finis di podium, sebuah pencapaian yang luar biasa.

Pembalap Inggris itu mengakhiri musim dengan unggul 30 poin dari Esteban Ocon dari Alpine.

Alpine menikmati keunggulan performa atas McLaren hampir sepanjang musim, jadi mencetak 122 poin di mobil tercepat kelima, secara rata-rata, adalah sebuah hasil mengesankan.

Seperti di tahun 2021, Norris telah membuktikan bahwa dia memiliki bakat dan konsistensi untuk bertarung di barisan terdepan.

Pembalap yang paling mengecewakan: Daniel Ricciardo

Beberapa pembalap gagal memenuhi ekspektasi mereka dari musim F1 2022, salah satu yang paling menonjol adalah Daniel Ricciardo.

Setelah tahun pertama yang mengecewakan bersama McLaren, penampilan Ricciardo menjadi semakin buruk.

Pembalap Australia itu hanya tujuh kali finis poin, menempatkannya di urutan ke-11 pada klasemen akhir dan tertinggal 85 poin dari Norris.

Ricciardo memang mencetak skor bagus di Singapura dan Meksiko, tapi itu berkat strategi yang bagus daripada kecepatan mentah.

Keputusan McLaren untuk mencoret Ricciardo untuk tahun 2023 terlihat masuk akal mengingat kinerjanya yang sangat buruk selama dua tahun terakhir.

Kejutan terbesar: Alex Albon

Alex Albon pantas mendapat pujian lebih atas seberapa baik penampilannya tahun ini. 

Bergabung dengan Williams setelah satu tahun menepi, pembalap Thailand-Inggris itu menampilkan dominasi yang mirip dengan George Russell saat dihadapkan dengan Nicholas Latifi.

Albon 0,544% lebih cepat dari Latifi dalam kualifikasi sepanjang tahun, dibandingkan dengan Russell, yang rata-rata 0,432% di depan pembalap Kanada itu.

Memang, Latifi terlihat jauh lebih kesulitan dengan Williams tahun ini, tetapi itu tidak mengurangi betapa mengesankannya Albon sepanjang tahun.

Pembalap yang ada dalam tekanan: Yuki Tsunoda, Zhou Guanyu, dan Sergio Perez

Berbicara soal pembalap yang ada dalam tekanan, Yuki Tsunoda perlu mengambil langkah maju jika dia ingin tetap bersama AlphaTauri.

Pembalap Jepang yang cukup tempramental itu belum memberikan hasil yang cukup konsisten sejak melakukan debutnya di F1 pada 2021.

Dengan rekan setim baru Nyck de Vries, Tsunoda tidak memiliki alasan, terutama karena dia memiliki lebih banyak pengalaman F1 daripada orang Belanda itu.

Zhou Guanyu tampil solid sepanjang musim rookie-nya, namun pembalap Tiongkok itu harus lebih sering mencetak poin bersama Alfa Romeo tahun depan.

Terakhir, kami memasukkan Sergio Perez. 

Memang, Checo memiliki kontrak di Red Bull sampai akhir 2024, namun kehadiran Daniel Ricciardo sebagai pembalap kedua menjadi ancaman tersendiri, apalagi jika pria Meksiko itu gagal mempertahankan levelnya tahun depan.

Performa individu terbaik: Max Verstappen di Hungaria

Kemenangan Verstappen di Belgia adalah pilihan yang jelas karena ia start dari P14. Namun mengingat dominasi Red Bull di Belgia, kami memilih untuk mundur satu balapan.

Mulai dari posisi ke-10 di grid, Verstappen memenangkan Grand Prix Hungaria.

Mercedes memiliki kecepatan memenangkan balapan, dengan Russell meraih pole, sementara Ferrari berada di jalur untuk menang sebelum mereka memberi Leclerc ban Hard.

Verstappen tampil sensasional di Hungaroring, bahkan dengan sedikit momen melintir.

Balapan terbaik tahun ini: Grand Prix Inggris

Grand Prix Inggris adalah balapan favorit kami tahun ini dengan sejumlah aksi yang tidak terlupakan di Silverstone.

Pertarungan antara Sainz dan Leclerc untuk meraih kemenangan, pemulihan Perez melalui lapangan, sampai overtake ganda Hamilton yang luar biasa setelah Safety Car.

Leclerc juga melakukan langkah terbaik musim ini, menggantungnya di luar Hamilton ke Copse.

Prediksi F1 2023?

Ada empat nama yang menurut kami bisa bertarung untuk gelar F1 2023. Verstappen tetap menjadi favorit yang jelas karena ia tampaknya telah mencapai puncak permainannya.

Jika Ferrari telah meningkatkan level mereka, Leclerc telah menunjukkan bahwa dia memiliki kecepatan dan agresi untuk bersaing dengan Verstappen.

Mercedes memiliki dua 'kartu As' dalam diri Russell dan Hamilton, The Silver Arrows hanya membutuhkan mobil yang mumpuni untuk membawanya ke pertarungan kemenangan secara konsisten.