F1 2026: 10 Pertanyaan Terbesar Menuju Era Baru Balap Jet Darat

Saat era baru menyongsong, kami telah membahas beberapa pertanyaan besar menjelang musim F1 2026.

F1 is heading into the unknown in 2026
F1 is heading into the unknown in 2026

Tahun baru 2026 akan segera tiba, dan bagi paddock Formula 1, itu akan lebih dari sekadar pergantian musim.

F1 akan menuju era baru, dengan perombakan total regulasi teknis untuk sasis dan Power Unit berpotensi mengubah peta persaingan, dan juga paddock akan menyambut kehadiran tim ke-11.

Semua itu akan menghadirkan antusiasme, dan pertanyaan, sambil menunggul mobil kembali mengaspal. Redaksi F1 Crash.net coba mengulas 10 pertanyaan terbesar untuk musim F1 2026.

Bisakah Norris mempertahankan gelarnya?

Lando Norris akan memasuki musim F1 2026 sebagai juara dunia bertahan - mimpi masa kecil yang akhirnya terwujud dan beban ekspektasi yang akhirnya terangkat.

Sepanjang kariernya, Norris terbuka tentang masalah mental yang memengaruhinya, khususnya pada hari-hari awalnya di McLaren. Norris lebih terbuka daripada kebanyakan orang, dan itu membuatnya rentan terhadap pengawasan.

Tidak adil jika dikatakan bahwa Norris mudah gugup - atau pernah menyerah di bawah tekanan sebelumnya, tetapi pada tahun 2025, kenyataannya adalah ketika ia harus memberikan hasil di akhir kejuaraan, ia berhasil. 

Memang, Oscar Piastri memiliki kepribadian yang lebih 'tenang' - tetapi hanya satu pembalap yang mengalami kehancuran di perebutan gelar.

Apakah ini penting di tahun 2026? Sampai batas tertentu. Norris dipaksa untuk berjuang keras di tengah musim ini dan menyadari bahwa ia perlu melakukan perubahan signifikan untuk memaksimalkan paket kompetitif yang diberikan McLaren kepadanya. 

Untuk itu, ia pantas mendapatkan rasa hormat yang besar.

 Norris is Great Britain's 11th F1 world champion
Norris is Great Britain's 11th F1 world champion

Norris telah menunjukkan bahwa ia mampu bangkit dari kesulitan dan meningkatkan performanya saat dibutuhkan. Apakah ia memiliki mobil terbaik? Ya. Apakah ia seorang 'orang yang menang karena mobilnya saja'? Jauh dari itu…

Keraguan diri yang mungkin dimiliki Norris sebelum memenangkan gelar F1 seharusnya sudah hilang setelah ia menjadi juara dunia. Dan karena alasan itu, sulit untuk tidak berpikir bahwa versi Norris yang akan kita lihat pada tahun 2026 akan menjadi peningkatan dari yang kita saksikan selama sembilan bulan terakhir.

Dan akan adil untuk berpendapat bahwa tahun kemenangan gelar Norris bahkan bukan termasuk tiga musim terbaiknya di F1 - 2021, 2022, dan 2024 semuanya lebih meyakinkan, ketika yang terpenting ia lebih nyaman di balik kemudi McLaren.

Pada akhirnya, semuanya akan bergantung pada apakah McLaren memberinya alat untuk melakukan hal itu. 

MCL39 adalah mobil yang paling unggul secara teknis dan dominan di grid 2025, jadi sulit untuk tidak melihatnya kembali bersaing, terutama jika Mercedes berhasil dengan mesin baru mereka.

Connor McDonagh

Apakah 'Papaya Rules' tetap menjadi kunci di McLaren?

Salah satu poin pembicaraan terbesar dari tahun 2025 terbukti adalah penerapan 'Papaya Rules' oleh McLaren.

'Papaya Rules' adalah kode etik yang digunakan sebagai pedoman untuk balapan yang agresif namun adil yang menegaskan nila kerja sama tim McLaren.

Aturan ini awalnya diperkenalkan untuk mencegah Norris dan Piastri saling bersinggungan. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Team Principal McLaren, Andrea Stella, selama Grand Prix Italia 2024 setelah pertarungan sengit antara Norris dan Piastri di lap pembuka.

Aturan ini berevolusi pada tahun 2025 sebagai bagian dari upaya McLaren untuk memastikan perlakuan yang adil dan setara antara Norris dan Piastri saat mereka berjuang memperebutkan kejuaraan dunia.

Upaya McLaren menjaga kesetaraan antar pembalap menjadi sedikit canggung seiring memanasnya pertarungan gelar antara Norris dan Piastri, dan situasinya jadi semakin rumit oleh kemunculan Max Verstappen sebagai penantang gelar juara.

'Papaya Rules' menjadi sorotan setelah team-order kontroversial di Monza, dan juga dianggap sebagai biang keladi dari kesalahan strategi di Grand Prix Qatar, di mana mereka menyerahkan kemenangan kepada rival utama mereka, Verstappen.

Meskipun McLaren banyak dikritik karena melakukan manajemen mikro yang obsesif, pendekatan tersebut pada akhirnya menghindari kebutuhan akan team-order langsung dari tim.

McLaren diperkirakan akan melanjutkan kebijakan keadilan dan kesetaraan penuh mereka musim depan, dan akan menunjukkan fakta bahwa mereka berhasil mencapai tujuan mereka untuk memenangkan kedua kejuaraan dunia dengan pendekatan ini.

Namun, apakah keharmonisan tim yang sehat antara Norris dan Piastri dapat dipertahankan adalah masalah lain…

Lewis Larkam 

Kembalinya dominasi Mercedes?

Mercedes are viewed as many as being early favourites
Mercedes are viewed as many as being early favourites

Pembicaraan di paddock mengenai tahun 2026 adalah tentang Mercedes. Mungkin ini seperti déjà vu, seperti pada akhir tahun 2013, ketika mereka difavoritkan sebagai tolok ukur utama untuk memulai aturan mesin baru.

Mercedes membuktikan diri pada tahun 2014, menghasilkan Power Unit yang sangat mumpuni yang bahkan membuat Williams melesat dari tim papan bawah menjadi pesaing podium reguler. Mungkinkah hal yang sama terjadi pada tahun 2026?

Rekam jejak dan pengalaman Mercedes menjadikan mereka favorit dan pilihan yang jelas. Kekeringan gelar Ferrari telah berlangsung sejak tahun 2008 - dan musim terakhir mereka bisa dibilang yang terburuk di abad ini, mengingat ekspektasi pra-musim yang tinggi.

Red Bull menggunakan mesin mereka sendiri untuk pertama kalinya, jadi sulit untuk melihat mereka sebagai penantang sejak awal, sementara Audi membutuhkan waktu untuk meningkatkan performa karena mereka akan menjadi tim pabrikan pada tahun 2026.

Ketidakpastian besar - dan kemungkinan penantang - bisa jadi Honda. Pabrikan Jepang ini bergabung dengan Aston Martin. Tambahkan Adrian Newey ke dalam tim, dan mereka bisa menjadi tim yang patut diperhatikan.

Pilihan yang aman adalah Mercedes, dan menjadi tim pabrikan tentu akan memberi mereka keuntungan dibandingkan McLaren, Williams, dan Alpine - tiga tim pelanggan mereka - dalam hal integrasi dan pemahaman awal tentang unit daya.

Mercedes adalah pilihan yang logis - tetapi tidak ada yang pasti, terutama dengan perubahan aturan yang drastis di semua lini, bukan hanya di sisi mesin.

CMD

Masa depan Max Verstappen di Red Bull

Masa depan Verstappen tampaknya akan menjadi topik pembicaraan utama yang kemungkinan akan mendominasi beberapa bulan mendatang.

Verstappen mengakhiri spekulasi kepindahannya ke Mercedes selama berbulan-bulan dengan mengonfirmasi bahwa ia akan tetap bersama Red Bull setidaknya sampai musim 2026.

Juara dunia empat kali ini terikat kontrak dengan Red Bull hingga akhir tahun 2028, tetapi kontraknya diketahui mencakup beberapa klausul terkait kinerja yang memungkinkannya untuk meninggalkan tim lebih awal dalam keadaan tertentu.

Saga Mercedes-Verstappen kemungkinan akan kembali jadi topik pembicaraan di tahun 2026. Meski telah berkomitmen pada George Russell dan Kimi Antonelli untuk musim depan, Team Principal Mercedes, Toto Wolff, menolak untuk mengesampingkan kemungkinan merekrut Verstappen jika kesempatan itu muncul.

Lagipula, siapa yang bisa menyalahkannya? Verstappen sekali lagi menunjukkan mengapa ia adalah pembalap terbaik di grid F1 saat ia hampir saja melakukan comeback terbesar dalam sejarah perebutan gelar juara pada tahun 2025.

Verstappen tidak akan kekurangan peminat potensial, dengan Aston Martin juga dikabarkan tertarik pada pembalap asal Belanda tersebut.

Namun, keputusan untuk meninggalkan Red Bull pada akhirnya akan bergantung pada daya saing mereka di tahun 2026, yang masih belum diketahui.

Verstappen akan memiliki banyak pilihan tim jika ia bersedia, dan terlepas dari apakah ia memilih untuk tetap tinggal atau pergi, ia akan menjadi tokoh kunci yang memengaruhi pasar pembalap tahun 2027 yang berpotensi sangat kompetitif.

LL

2026 will be a huge year for Verstappen and Red Bull
2026 will be a huge year for Verstappen and Red Bull

Bisakah Isack Hadjar mematahkan kutukan kursi kedua Red Bull?

Isack Hadjar adalah pembalap terbaru yang diberi tugas mustahil untuk menjadi rekan setim Verstappen di Red Bull.

Pierre Gasly, Alex Albon, Liam Lawson, dan Yuki Tsunoda semuanya gagal meskipun menunjukkan potensi selama karier mereka di F1.

Sergio Perez diberi kesempatan empat musim, tetapi tidak seperti keempat pembalap yang disebutkan di atas, ia memiliki mobil yang dominan dan mampu memenangkan gelar juara. 

Selain itu, pengalaman Perez secara alami membantunya bertahan di Red Bull, setidaknya hingga sepertiga pertama tahun 2023.

Hadjar menikmati musim debut yang luar biasa, mencetak podium F1 pertamanya di Grand Prix Belanda. Ia secara rutin masuk Q3 dan menikmati keunggulan performa yang menentukan atas Lawson.

Performa Hadjar di Racing Bulls cukup meyakinkan. Lawson dipromosikan ke Red Bull pada awal tahun 2025 meskipun tidak mampu mengungguli Tsunoda dalam kualifikasi setelah menggantikan Daniel Ricciardo pasca-Singapura.

Tsunoda dikalahkan oleh Gasly dan tidak mampu mengalahkan Ricciardo. Apakah Red Bull benar-benar yakin atau mengharapkan dia untuk tampil bagus?

Hadjar benar-benar mengesankan, dan promosinya ke Red Bull bertepatan dengan perubahan regulasi total - yang berarti pengaturan ulang total dalam hal filosofi mobil.

Bisakah dia mematahkan kutukan Red Bull? Sangat mungkin. Dia jelas memiliki peluang lebih baik daripada Lawson atau Tsunoda.

CMD

Bagaimana daya saing Ferrari?

Pertanyaan besar lainnya yang menjadi perbincangan semua orang adalah tentang daya saing Ferrari - atau kurangnya daya saing tersebut.

Ferrari mengalami musim 2025 yang buruk karena tergelincir dari posisi kedua ke keempat dalam klasemen konstruktor dan gagal memenangkan balapan untuk pertama kalinya sejak 2021.

Hal itu terbukti menjadi awal yang buruk bagi Lewis Hamilton di Ferrari karena kepindahannya yang diimpikan dengan cepat berubah menjadi mimpi buruk.

Ferrari berharap perubahan regulasi baru untuk tahun 2026 akan memberikan kesempatan untuk kembali ke barisan depan dan akhirnya mengakhiri paceklik gelar juara selama 18 tahun.

Tahun 2026 akan menjadi tahun penentu bagi Ferrari dan masa depan Charles Leclerc dan Hamilton.

Akhir dari karier Hamilton?

Hamilton will want to forget his first season with Ferrari
Hamilton will want to forget his first season with Ferrari

Hamilton mengalami musim terburuk dalam karier F1-nya hingga saat ini pada tahun 2025, dengan juara dunia tujuh kali itu gagal naik podium sepanjang musim.

Meskipun Hamilton menunjukkan beberapa momen gemilang seperti kemenangan Sprint Race di Tiongkok, dan kemajuan nyata pada paruh kedua musim, performa keseluruhannya mengkhawatirkan.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi, pesan-pesan Hamilton setelah akhir pekan yang sulit menimbulkan pertanyaan tentang masa depannya di Formula 1.

Media balap terkemuka asal Italia, Autoracer.it, menyatakan bahwa Ferrari memiliki opsi untuk memperpanjang kontrak Hamilton hingga 2027 - tetapi itu dari pihak tim. 

Hal ini menunjukkan bahwa jika Hamilton mengalami musim yang sulit lagi pada tahun 2026, Ferrari dapat menggantinya.

Yang sedikit bisa menguntungkan Hamilton adalah masa depan Leclerc juga sedang dipertanyakan. Leclerc semakin frustrasi dengan ketidakmampuan Ferrari untuk memberinya mobil yang mampu bersaing memperebutkan gelar juara.

Publikasi yang sama melaporkan setidaknya tiga tim tertarik dengan jasa Leclerc untuk tahun 2027. Tentu saja, jika Leclerc pergi, Ferrari mungkin menginginkan kontinuitas dengan mempertahankan Hamilton.

Pada akhirnya, semuanya bergantung pada Hamilton untuk meningkatkan performanya di lintasan. Performanya selama dua musim terakhir jauh dari level yang diharapkan darinya.

Tidak diragukan lagi bahwa proses adaptasi di Ferrari sangat berat, jadi satu tahun lagi di tim tersebut, secara teori, seharusnya hanya menguntungkan Hamilton.

Faktor lain yang mungkin berperan adalah mobil baru untuk tahun depan. Era 'ground effect' kini telah berakhir, yang mungkin lebih sesuai dengan gaya mengemudi Hamilton. 

Namun, seperti yang terlihat pada Ricciardo antara tahun 2021 dan 2022, aturan baru tidak menjamin pemulihan performa lama.

Pada akhirnya, semuanya ada di tangan Hamilton.

CMD

Saatnya Aston Martin naik kelas?

Antusiasme yang besar menyelimuti proyek Aston Martin untuk tahun 2026 dan seterusnya.

AMR26 akan menjadi Aston Martin pertama yang dirancang oleh legenda desain F1, Adrian Newey, menggunakan fasilitas baru yang mengesankan dari tim yang berbasis di Silverstone, dan akan ditenagai oleh Honda sebagai bagian dari kemitraan Power Unit eksklusif.

Keterlibatan Newey secara khusus telah memunculkan spekulasi bahwa Aston Martin bisa menjadi tim yang harus dikalahkan pada tahun 2026, membuka peluang bagi Fernando Alonso untuk meraih gelar ketiga yang sejauh ini belum berhasil diraihnya.

Aston Martin memiliki ambisi besar untuk menjadi penantang kejuaraan dunia F1 dalam beberapa tahun mendatang, tetapi mengakui bahwa dibutuhkan sesuatu yang benar-benar istimewa untuk membuat lompatan seperti itu tahun depan. Namun, perubahan aturan F1 dapat memberikan kesempatan itu.

Berjuang untuk podium dan beberapa kemenangan di tahun 2026 akan menandai langkah maju yang besar bagi Aston Martin, yang telah mengalami beberapa musim yang sulit sejak memulai musim 2023 dengan luar biasa.

Ekspektasi untuk tahun 2026 kemungkinan akan sedikit terkendali di dalam tim, tetapi akan ada tekanan besar untuk memperbaiki hasil yang mengecewakan di posisi ketujuh dalam kejuaraan konstruktor 2025.

Setelah semua persiapan, pembicaraan, dan investasi besar, satu hal yang pasti; tidak akan ada tempat bagi Aston Martin untuk bersembunyi di musim depan.

LL

Can Adrian Newey transform Aston Martin's fortunes?
Can Adrian Newey transform Aston Martin's fortunes?

Menanti kiprah Cadillac di F1

F1 menyambut tim baru pertamanya dalam satu dekade, dengan Cadillac bergabung di grid pada tahun 2026.

Tidak seperti Haas, yang bergabung di grid pada tahun 2016 dengan kemitraan teknis bersama Ferrari, Cadillac memulai dari nol dan mengandalkan diri mereka sendiri untuk berprestasi di F1.

Itu bukanlah perkara mudah, tetapi mengingat akar dan sejarah Cadillac di dunia motorsport, seharusnya hanya masalah waktu sebelum mereka menjadi kompetitif.

Performa mereka pada akhirnya akan bergantung pada seberapa kompetitif Power Unit Ferrari 2026. Seperti yang terlihat pada tahun 2014 dengan Mercedes, semua tim pelanggan mereka memiliki keunggulan signifikan dibandingkan tim lain.

Salah satu area di mana Cadillac tidak tertinggal adalah line-up pembalap. Valtteri Bottas dan Sergio Perez adalah sosok veteran berpengalaman.

Sederhananya, jika mobilnya bagus, mereka akan memaksimalkannya. Meskipun Bottas tidak mencetak poin di musim terakhirnya di Sauber, keunggulannya atas rekan setimnya Zhou Guanyu hampir 0,5 detik sepanjang musim, menunjukkan bahwa ia masih tampil di level tinggi.

Perez baru terbukti benar sejak kepergiannya dari Red Bull, mengingat kesulitan yang dialami Lawson dan Tsunoda. Dalam hal mencetak hasil yang oportunistik dari tempat yang tak terduga, tidak banyak yang lebih baik dari Perez di F1.

Jika Cadillac kompetitif di papan tengah bawah dan tidak selalu berada di posisi belakang, maka itu akan menjadi kesuksesan bagi mereka di tahun pertama mereka.

CMD

Apakah aksi balap akan lebih baik?

Following in dirty air was a problem in 2025
Following in dirty air was a problem in 2025

Perubahan regulasi menjadikan F1 2026 sebagai salah satu musim yang paling dinantikan dalam beberapa tahun terakhir.

Mobil generasi baru akan lebih kecil dan ringan serta menampilkan aerodinamika aktif baru dalam upaya untuk meningkatkan aksi saling menyalip.

Diharapkan desain baru ini akan memungkinkan mobil untuk saling mengikuti dengan lebih mudah dan pada akhirnya menghasilkan aksi balap yang lebih baik.

Para pembalap akan memiliki lebih banyak kekuatan di tangan mereka daripada sebelumnya, dan akan menghadapi pengambilan keputusan kritis tentang penggunaan, regenerasi, dan konservasi energi.

Ini akan menambah dinamika baru yang menarik dan akan sangat menarik untuk melihat pembalap mana yang paling menguasai aturan baru ini.

Peningkatan aksi balap antar mobil tentu menjadi tujuan F1, tetapi buktinya akan terlihat pada hasilnya.

LL