Setelah rumornya mencuat sejak Grand Prix Brazil, Mattia Binotto akhirnya memilih meninggalkan Ferrari pada akhir tahun 2022, mengakhiri hubungan 28 tahunnya dengan pabrikan mobil Italia tersebut.

Hal ini terjadi setelah musim 2022 di mana The Prancing Horse harus melanjutkan penantian mereka akan gelar juara dunia F1, yang musim ini didominasi oleh Red Bull dan Max Verstappen.

Tim belum mengumumkan siapa suksesor Binotto sebagai Team Principal, meski diketahui Fred Vasseur dari Alfa Romeo dan bos Red Bull Christian Horner diketahui berada dalam radar.

Terlepas dari siapa yang ditunjuk sebagai pemimpin baru di Maranello, Team Principal baru pengganti Binotto sudah harus dihadapkan dengan empat pekerjaan rumah besar untuk musim 2023.

Perombakan tim strategi

Salah satu kelemahan Ferrari pada tahun 2022 adalah panggilan strategi mereka yang secara konsisten buruk - atau tidak jelas.

Celakanya, strategi adalah bagian integral dari tim F1 manapun, khususnya saat dua tim seimbang dalam performa langsung seperti yang terjadi tahun ini.

Verstappen vs Perez: Has their relationship gone bad?

Balapan F1 sering ditentukan oleh keputusan penting di dinding pit, apakah mereka harus memilih strategi tertentu - satu atau dua pit-stop?

Musim 2022 Ferrari dipenuhi dengan kesalahan operasional, mulai dari strategi ban yang salah sampai komunikasi yang buruk di dinding pit dengan para pembalap, yang paling mempengaruhi Charles Leclerc.

Di Monaco, Ferrari gagal bereaksi terhadap Red Bull menempatkan Sergio Perez di intermediate, memupus harapan Leclerc kehilangan potensi untuk memenangkan balapan kandangnya, turun dari posisi teratas untuk finis keempat.

Situasinya sama di Silverstone saat tim tidak menarik Leclerc ke pit di bawah Safety Car, membiarkan rekan setimnya Carlos Sainz memenangi balapan, sementara Charles finis keempat setelah disalip oleh Perez dan Lewis Hamilton.

Menurut beberapa laporan, Grand Prix Inggris merupakan titik di mana hubungan Leclerc dan Binotto memburuk setelah pria Italia itu terlihat memberi peringatan kepada pembalap bintangnya setelah balapan di parc ferme.

Hongaria menjadi contoh buruk lainnya dari strategi Ferrari, menempatkan Leclerc di posisi yang sulit ketika mereka menggunakan ban balap yang buruk.

Mereka juga membuat pilihan strategi sub-par dalam harapan gelar mereka yang gagal dengan Sebastian Vettel pada 2017 dan 2018.

Siapapun pengganti Binotto, ia harus mengatasi ini untuk memiliki harapan untuk menumbangkan Red Bull tahun depan.

Memprioritaskan Leclerc

Dengan kontrak Leclerc yang habis pada akhir 2024, Ferrari perlu melakukan semua yang mereka bisa untuk memenuhi tuntutan pembalap Monaco.

Leclerc adalah bintang Ferrari, dan jika diberi mobil yang kompetitif, dia memiliki alat yang dibutuhkan untuk membawanya ke Verstappen dan Hamilton.

Sementara Sainz adalah pembalap yang solid, dia belum menunjukkan level kecepatan yang dimiliki Leclerc atau Verstappen.

Memang, Sainz kesulitan dengan sifat oversteer mobil Ferrari di paruh pertama musim. Namun, mobil harus disesuaikan dengan pembalap terbaik mereka, seperti yang dilakukan Red Bull dengan Verstappen.

Jika Ferrari tidak dapat membuktikan bahwa mereka memiliki potensi untuk menjadi juara, Leclerc mungkin akan mencari peruntungan di tempat lain.

Salah satu tim yang dikaitkan adalah Mercedes, yang mungkin mencari pengganti jangka panjang dari Hamilton yang sudah menua.

Plus, adalah kepentingan Ferrari untuk memiliki hierarki tim yang jelas mengingat betapa suksesnya Red Bull, Mercedes, dan bahkan Scuderia di masa lalu.

Revolusi mental

Ironisnya, Ferrari masih belum memenangkan kejuaraan pembalap sejak 2007.

Mereka memiliki beberapa kesempatan sejak saat itu, tetapi jelas tim Italia yang ikonik itu bukanlah tim pemenang gelar.

Setelah dua musim yang mengecewakan, mengacu dengan standar tinggi mereka, Ferrari kembali ke grid depan pada tahun 2022 dengan mobil pemenang balapan.

Hingga Grand Prix Belgia, Ferrari memiliki mobil tercepat, tetapi Verstappen mengendalikan perburuan gelar dengan baik.

Tampaknya Binotto puas dengan musim Ferrari karena mereka telah membuat kemajuan yang signifikan selama musim dingin, meski tawaran gelar mereka gagal sebelum waktunya.

Ketidakmampuan Binotto untuk mengakui atau menerima kegagalan Ferrari selama kampanye juga cukup membingungkan.

Memang, kemajuan yang mereka buat sejak 2021 sangat mengesankan. Tapi mengingat ukuran, status, dan sumber daya yang mereka miliki, empat kemenangan dari 22 balapan tidak cukup baik.

Ferrari perlu melakukan revolusi mental dengan Team Principal baru mereka, dan membawa tim ke level yang seharusnya sebagai tim F1 paling sukses dan ikonik.

Pengembangan mobil

Pengembangan mobil sepanjang musim telah menjadi kelemahan Ferrari dalam pengejaran gelar mereka baru-baru ini.

Tim bisa dibilang sangat terpukul oleh arahan teknis yang diperkenalkan di Spa, tetapi Ferrari membantah anggapan ini.

Binotto mengkonfirmasi dalam beberapa kesempatan bahwa mereka menghentikan pengembangan mobil tahun ini sebelum waktunya, menjelaskan kenapa Mercedes lebih unggul dari mereka di bagian akhir tahun ini.

Ini sudah menjadi masalah klasik Ferrari, bahkan di awal 2010-an dengan Fernando Alonso atau 2017/18 dengan Vettel.

Jelas, bos baru Ferrari perlu mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan pengembangan tengah musim mereka plus perbaikan reabilitas Power Unit, yang juga menjadi masalah tahun lalu.

Politik internal Ferrari

Peran Team Principal di Ferrari sering dipandang sebagai piala beracun.

Sejak 2013, Ferrari memiliki empat orang berbeda yang bertanggung jawab atas tim F1 mereka.

Entah karena kurangnya hasil atau bentrok dengan manajemen Ferrari, peran tersebut merupakan peran yang menantang.

Menurut sebuah laporan oleh RacingNews365 , CEO Benedetto Vigna "mencampuri" strategi tim, sementara ketua John Elkann tidak mengakhiri spekulasi tentang masa depan Binotto sampai dia diminta melakukannya oleh orang Italia itu.

Menghadapi manajemen senior Ferrari adalah tugas berat lainnya bagi penerus Binotto.