Pengakuan Cedera Raul Fernandez setelah Podium MotoGP Indonesia
Raul Fernandez mengatakan bahwa cedera tangannya lebih parah daripada yang diketahui siapa pun.

Pembalap MotoGP dari Trackhouse, Raul Fernandez, mengungkapkan bahwa ia merahasiakan kondisi sebenarnya dari cedera tangannya setelah finis di posisi kedua pada Grand Prix Indonesia.
Pembalap asal Spanyol itu mengalami patah jari akibat benturan dengan sesama pembalap Aprilia, Marco Bezzecchi, pada lap pembuka balapan sprint hari Sabtu.
Meski berhasil meraih *pole position* untuk pertama kalinya, partisipasi Raul Fernandez dalam balapan Grand Prix tersebut sempat diragukan.
Ia akhirnya tetap turun membalap dan finis di posisi kedua, setelah sempat memimpin selama 18 dari total 27 putaran.

Namun, setelahnya ia mengungkapkan bahwa cederanya lebih parah daripada yang diketahui siapa pun karena ternyata dua jarinya patah.
"Saya tidak bisa berbuat lebih lagi," ujarnya di parc ferme. "Saya tidak tahu harus berkata apa, karena bagi saya situasinya sangat sulit saat saya terjatuh dan langsung melihat kondisi tangan saya.
"Sebelum pergi ke klinik, saya sudah tahu bahwa jari saya patah - jari yang biasanya saya gunakan untuk mengerem."
“Jadi, saat melihatnya, saya pikir mungkin saya tidak akan bisa memulai balapan dari pole [pada balapan utama].
“Pagi ini saat bangun tidur, saya mendapati bukan cuma satu - ternyata ada dua jari saya yang patah!
“Dan tidak ada yang tahu. Saya berusaha untuk tidak bicara apa-apa, menanggung sendiri rasa sakitnya, dan tetap fokus pada balapan.”
Fernandez ‘mulai dari nol’ setelah cedera
Trackhouse harus melakukan penyesuaian pada setang motornya agar ia bisa tetap membalap meski mengalami cedera tangan.
Namun, ia mengakui bahwa semua titik acuannya menjadi "nol sama sekali" karena ia harus mengubah jari yang digunakannya untuk melakukan pengereman.

"Biasanya saya mengerem menggunakan jari itu [jari telunjuk], namun pagi ini saya tidak bisa menggunakannya," ujarnya kepada program *After the Flag* milik MotoGP.
"Saat saya naik ke atas motor pagi ini untuk melihat apakah saya bisa balapan atau tidak, saya mengambil posisi tangan yang biasa, dan masalahnya bukan pada setang; masalah bagi saya adalah bagaimana caranya mengerem?
"Tim melakukan beberapa perubahan pada posisi tangan saya, sedikit mengubah posisi remnya.
“Saya merasa, oke, sekarang saatnya mencobanya di lintasan karena saya merasa nyaman saat mengendarai motornya.
“Jadi, saya mencobanya pagi ini. Bagian tersulitnya adalah saya sama sekali tidak memiliki acuan dari sesi-sesi sebelumnya sepanjang akhir pekan itu, karena saya benar-benar memulai dari nol.
“Acuan untuk cara saya mengerem dan cara saya melibas tikungan menjadi sangat berbeda.
“Situasinya sulit dikendalikan, tetapi akhirnya kami berhasil menjalani balapan dan meraih podium yang luar biasa.
“Setelah 13 atau 14 lap, kondisi fisik saya benar-benar terkuras. Saya merasakan sakit yang luar biasa karena sangat sulit untuk terus menjaga fokus pada setang dan tidak melakukan kesalahan.”
















