Pembalap MotoGP Lakukan 'Pertemuan Rahasia' untuk Menolak GP Qatar
Sebagian besar pembalap di grid MotoGP dilaporkan menentang penyelenggaraan balapan di Qatar.

Sebagian besar pembalap di grid MotoGP menentang gagasan dilanjutkannya Grand Prix Qatar, saat munculnya kabar mengenai 'pertemuan rahasia' di Phillip Island.
Seperti dilaporkan oleh The Race, sebuah pertemuan rahasia yang melibatkan seluruh pembalap telah digelar pada hari Kamis menjelang Grand Prix Australia.
Sebuah pemungutan suara dilakukan terkait gagasan untuk pergi ke Qatar pada awal November guna melangsungkan putaran ke-20 musim ini, di tengah meningkatkanya ketegangan di Timur Tengah konflik antara Iran dan Amerika Serikat.
Jurnalis MotoGP dari publikasi tersebut, Simon Patterson, melaporkan bahwa dua pertiga dari pihak yang terlibat dalam pertemuan itu memberikan suara menolak untuk menggelar balapan di Qatar.

MotoGP tegaskan balapan akan tetap digelar
Namun, belum jelas apakah pemungutan suara ini akan berdampak pada pengambilan keputusan di MotoGP.
Awalnya, MotoGP dijadwalkan menggelar Grand Prix Qatar pada bulan April, sebelum akhirnya ditunda ke akhir pekan tanggal 6–8 November akibat perang di Iran.
Akan tetapi, sejumlah kejuaraan olahraga otomotif telah membatalkan berbagai ajang yang direncanakan di Timur Tengah dan memindahkannya ke lokasi lain karena adanya ketidakpastian tersebut.
MotoGP dan kejuaraan lain yang dimiliki Liberty, Formula 1, tetap bersikukuh bahwa balapan mereka di Timur Tengah akan berlangsung sesuai rencana.

Awal pekan ini, sirkuit Lusail menyatakan bahwa mereka sudah memasuki tahap akhir persiapan untuk berbagai ajang yang akan digelar pada bulan November mendatang.
Tapi, konflik di kawasan tersebut terus meningkat, dengan kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur sipil di Arab Saudi dalam beberapa pekan terakhir.
Semakin banyak pemerintah di dunia yang mengeluarkan imbauan untuk tidak bepergian ke wilayah tersebut, termasuk ke Qatar.
Pada hari Kamis, sebagian besar pembalap yang ditanya mengenai rencana perjalanan ke Qatar menyatakan bersedia untuk pergi, asalkan keselamatan mereka terjamin.
Namun, jaminan tersebut pada akhirnya berada di luar kendali MotoGP, mengingat Presiden AS Donald Trump mengancam akan meningkatkan serangan terhadap Iran menyusul pemilihan umum paruh waktu pekan depan.

Penyiar MotoGP batal ke Qatar
Sejumlah kantor penyiaran telah menyusun rencana untuk tidak bepergian ke Qatar, mengingat adanya ketidakpastian di kawasan tersebut seandainya perlombaan tetap dilangsungkan.
Stasiun televisi asal Belanda, Ziggo Sport, disebut-sebut sebagai salah satu pihak yang mengubah rencananya terkait Qatar.
Penyiar asal Inggris, TNT Sport, juga tampaknya tidak akan hadir di Qatar. Neil Hodgson menyebutkan pada hari Jumat di Australia bahwa sebagai gantinya, sebuah studio di London akan digunakan.
Selain aspek keselamatan yang memengaruhi keputusan-keputusan ini, eskalasi perang apapun kemungkinan besar akan menyebabkan gangguan serius pada ruang udara di kawasan tersebut, seperti yang terjadi pada awal tahun ini.
MotoGP hanya memiliki jeda satu minggu antara balapan di Qatar dan rangkaian double-header di Portimao/Valencia, dengan persaingan perebutan gelar juara yang diperkirakan akan terus berlanjut hingga putaran terakhir.










