Setelah finis kesembilan di MotoGP Aragon, Jack Miller tertinggal 39 poin dari Joan Mir di puncak klasemen. Meski secara matematis masih mungkin, pembalap Pramac Ducati itu mengaku peluangnya dalam pertarungan gelar sudah selesai.

Sebelumnya, Miller hanya berjarak 12 poin dari puncak klasemen. Tapi nasib buruk dialami pembalap Australia itu, mulai dari gagal finis di akibat tear-off visor pembalap lain di Misano, dan mengalami masalah mekanis saat bertarung untuk podium di Le Mans.

"Saya sudah melepaskan hantu itu setelah akhir pekan lalu," kata Miller tentang peluang gelarnya. "Lagipula, peluang saya kecil.

"Posisi [9] hari ini tidak terlalu mencerminkan balapan, kami hanya sembilan detik dari kemenangan, tetapi kami berada di posisi sembilan. Itu tidak ideal jika Anda ingin memenangi gelar, tapi saya tidak ada di [pertarungan] kejuaraan.

"Setelah akhir pekan lalu [di Le Mans] kehilangan peluang poin yang solid dalam perlombaan yang benar-benar bisa kami lakukan dengan baik, fokus utama saya sekarang hanya mencoba menyelesaikan musim dengan kuat, kembali naik podium dan poin sebanyak mungkin."

Bertekad tinggalkan Pramac dengan hasil manis

Jelang kepindahannya ke tim pabrikan Ducati, Miller bertekad utuk menutup kisah di Pramac dengan kemenangan MotoGP pertama dengan mesin Ducati di empat putaran tersisa. Sebagai catatan, tim belum pernah lagi finis pertama sejak Makoto Tamada pada tahun 2004 di bawah bendera Camel Honda.

"Untuk Pramac juga, tujuan saya adalah mencoba dan membuat mereka menang musim ini," kata Miller, pemenang TT Assen 2016 dengan Marc VDS Honda.

"Saya sudah lama tidak mendapatkannya, peluang kami semakin habis. Tapi delapan pembalap kini telah memenangkan balapan musim ini, jadi apa pun bisa terjadi."

Harapan Miller untuk finis yang kuat pada hari Minggu mendapat pukulan berat saat strategi yang dipakai para pembalap Ducati untuk memakai ban belakang medium tidak membuahkan hasil.

"Semuanya berjalan kurang lebih baik. Aku menghemat untuk mengharapkan [para pembalap dengan ban soft] kehilangan grip ban, tapi sepertinya itu tidak terjadi. Satu-satunya orang yang tampaknya menderita dengan ini adalah Quartararo, sementara lainnya sepertinya tidak ada masalah, "kata Miller.

"Pada lap pembuka saya tampak kesulitan dengan grip dibandingkan pembalap lain, ini sudah diprediksi saat Anda memakai ban medium. Saya hanya berusaha bersabar dalam balapan, tetapi sepertinya [kesempatan] tidak datang kepada kami.

"Kami harus menganalisa sekarang, Zarco memakai soft dan sepertinya dia memiliki grip yang baik pada akhir balapan. Jadi kami harus memahami apa itu, mungkin suhu hangat sore ini membuat soft bertahan lebih baik.

"Tidak yakin benar-benar apa lagi [yang bisa terjadi]. Dari apa yang kami pelajari sepanjang akhir pekan selain balapan, saya tidak bisa melakukan lebih dari lima lap yang konsisten dengan ban belakang lembut. Tampaknya [grip] turun begitu cepat dan mengalami aus yang cukup parah.

"Jadi sangat aneh melihatnya begitu konsisten, dan memiliki kinerja yang bagus dari itu [ban soft] hari ini. Seperti yang saya katakan, kami hanya perlu menganalisis. Kami kembali ke sini lagi minggu depan, dan memahami apakah itu dapat berhasil untuk kami atau tidak."

Pun demikian, nasib Jack Miller masih lebih beruntung dibandingkan rekan setimnya, Francesco Bagnaia, yang tersingkir dari balapan.