Harapan Inggris untuk mengakhiri penantian 55 tahun untuk trofi internasional pupus dalam kekalahan adu penalti  yang menyakitkan dari Italia final Euro 2020 di Wembley pada Minggu malam.

Sebelum kick-off, pertandingan dibayangi oleh perilaku suporter Inggris yang tidak memiliki tiket yang menerobos masuk ke Wembley, serta adegan-adegan buruk yang disaksikan di seluruh ibu kota menjelang pertandingan.

Dan pada pertandingan yang berlangsung sampai babak adu penalti, Rashford, Sancho, dan Saka masing-masing gagal meneksekusi penalti dalam kekalahan 3-2. Tak ayal, hal ini menjadi sasaran pelecehan rasis di media sosial.

Sebagai olahragawan yang sangat vokal terhadap isu rasisme, Lewis Hamilton bergeming melihat ketiga talenta muda Inggris itu mendapat ujaran rasisme di sosial media.

“Pelecehan rasial di media sosial terhadap para pemain kami setelah pertandingan kemarin tidak dapat diterima,” kata Hamilton di Instagram.

“Ketidaktahuan semacam ini harus dihentikan. Toleransi dan rasa hormat terhadap pemain kulit berwarna tidak boleh bersyarat. Kemanusiaan kita seharusnya tidak bersyarat.

“Tolong panggil mereka yang Anda lihat memposting kebencian secara online. Tantang mereka untuk melihat kemanusiaan dalam diri setiap orang tanpa memandang warna kulit mereka.

“Sangat bangga dengan seberapa jauh tim Inggris mampu melangkah. Sangat bangga dengan Bukayo Saka, Jadon Sancho, Marcus Rashford dan seluruh tim.”

Manajer Inggris Gareth Southgate menggambarkan pelecehan itu - yang sedang diselidiki oleh Polisi Metropolitan - sebagai "tak termaafkan", sementara Perdana Menteri Boris Johnson mengutuknya sebagai "mengerikan".

Duke of Cambridge, yang menyaksikan pertandingan di Wembley bersama Pangeran George dan Duchess of Cambridge, mentweet: “Saya muak dengan pelecehan rasis yang ditujukan kepada pemain Inggris setelah pertandingan tadi malam.

"Sama sekali tidak dapat diterima bahwa para pemain harus menanggung perilaku menjijikkan ini. Itu harus dihentikan sekarang dan semua yang terlibat harus bertanggung jawab."