Setelah prospek awal perebutan gelar selama satu musim antara Red Bull dan Ferrari memudar, Max Verstappen melarikan diri dengan kejuaraan dunia.

Menyusul kemenangan F1 GP Belanda, ini menjadi soal kapan, bukan apakah Verstappen mempertahankan gelarnya tahun 2022.

Mick Schumacher's F1 future - STAY or GO?

Telah meraih 10 kemenangan dari 15 balapan sejauh musim ini menempatkan Verstappen di puncak klasemen, kini ia unggul 109 poin dari rekan setimnya di Red Bull Sergio Perez dan pembalap Ferrari Charles Leclerc.

Kecuali ada kemalangan luar biasa yang bisa memutar balik plot musim, sepertinya tidak ada yang bisa menghentikan Verstappen untuk meraih gelar juara dunia kedua berturut-turut.

Situasinya berbeda jauh dengan tahun 2021, di mana Verstappen meraih gelar perdananya setelah mengalahkan Lewis Hamilton.

Pertarungan sengit antara kedua pembalap berlangsung selama 22 ronde, dan memuncak dalam salah satu balapan paling dramatis dan kontroversial dalam sejarah pada putaran terakhir musim ini di Abu Dhabi.

Kapan Verstappen bisa menyegel gelar?

Sederhananya, yang dibutuhkan Verstappen saat ini adalah tiga kemenangan dari tujuh balapan tersisa untuk memenangkan gelar. Bahkan dengan empat DNF, dia masih bisa memenangi gelar.

Saat ini hanya ada 190 poin yang bisa direbut dari tujuh balapan terakhir, termasuk Sprint Race di Brazil. Maka secara matematis, Verstappen bisa dinobatkan sebagai juara dunia pada Grand Prix Singapura Oktober mendatang.

Meski secara matematis mungkin, menyegel gelar dengan lima balapan tersisa rasanya sulit. Tidak hanya Verstappen harus memenangi dua balapan berikutnya, namun ia juga harus melihat rivalnya gagal mencetak satupun poin.

Mungkin ini lebih realistis; jika Verstappen mengklaim 26 poin maksimum di Italia dan Singapura, sementara Perez atau Leclerc finis kedua di ketiga balapan, ia bisa memastikan gelar di Grand Prix Jepang.

Bagaimana pesta Verstappen bisa ditunda?

Pertarungan gelar dapat bertahan sampai Grand Prix Amerika Serikat di Austin, itupun jika Perez dan Leclerc dapat meninggalkan Suzuka dengan defisit kurang dari 112 poin dari Verstappen.

Untuk itu terjadi, Perez dan Leclerc tidak oleh kehilangan 3 poin lainnya dari Verstappen. Karena jelang Grand Prix Italia di Monza, kedua pembalap sudah tertinggal 109 poin.

Baik Perez dan Leclerc harus mulai mengalahkan Verstappen jika mereka ingin memperpanjang penantian Verstappen hingga Grand Prix Meksiko pada akhir Oktober.

Selebihnya, butuh perubahan dramatis dari performa dan peruntungan Verstappen pada tujuh balapan tersisa agar pertarungan gelar kembali terbuka.

Jika melihat supremasi Verstappen dari rivalnya sejauh ini, Suzuka tampaknya menjadi tujuan yang mungkin bagi Max untuk menyegel titel kedua.

Rekor yang bisa dipecahkan Verstappen

Ada beberapa rekor yang bisa dipecahkan Verstappen dalam perjalanannya memenangkan gelar F1 2022. 

Verstappen berpeluang untuk memecahkan rekor kemenangan terbanyak dalam satu musim, yang saat ini dimiliki oleh Sebastian Vettel dan Michael Schumacher dengan 13 kemenangan.

Michael Schumacher memenangkan 13 dari 18 balapan dalam perjalanannya untuk memenangkan gelar pada tahun 2004, sementara Sebastian Vettel mengklaim 13 kemenangan dalam perjalanannya ke kejuaraan dunia keempat dan terakhirnya pada tahun 2013.

Perjalanan Vettel untuk meraih gelar pada tahun 2013 termasuk sembilan kemenangan berturut-turut, yang saat ini merupakan rekor kemenangan beruntun terpanjang dalam sejarah F1. Max bisa melampaui pencapaian itu, namun ia perlu menyapu bersih enam balapan berikutnya.

Setelah Zandvoort, Max kini memiliki empat balapan beruntun. Namun ia butuh melanjutkan momentumnya sampai Brazil untuk membuat rekor baru dengan 10 kemenangan beruntun.

Rekor lain yang berpotensi diperebutkan Verstappen adalah keunggulan poin terbesar dalam sejarah F1.

Sekali lagi, yang saat ini dipegang oleh Vettel, yang mengakhiri musim 2013 dengan keunggulan 155 poin di puncak klasemen kejuaraan dunia setelah menjuarai Grand Prix Brasil.