Francesco Bagnaia tampil sensasional selama paruh kedua musim MotoGP 2022 saat ia membalikkan defisit 91 poin dari Fabio Quartararo untuk memenangkan gelar pertama Ducati sejak Casey Stoner pada 2007.

Selain tersingkir dari Grand Prix Jepang di lap terakhir, Bagnaia nyaris sempurna saat mengklaim delapan podium dari sepuluh balapan terakhir, termasuk lima kemenangan.

Bagnaia juga membuktikan bahwa dia dapat mengatasi tekanan tertinggi setelah menahan rekan setim barunya Enea Bastianini untuk meraih kemenangan dalam beberapa kesempatan.

Namun, bagian awal tahun ini sangat kontras karena Pecco membuat beberapa kesalahan yang tampaknya membuat harapan gelarnya buyar. Salah satunya saat ia terjatuh di Le Mans setelah coba mengikuti Bastianini.

Rentetan kesalahan pada paru awal musim membuat Bagnaia mendapat banyak kritik keras, yang menurutnya normal. "Saya pikir setiap orang dapat memiliki sudut pandangnya sendiri dan setiap orang dapat mengatakan apa yang mereka pikirkan..

“Jadi, saya menerima bahwa beberapa orang tidak ingin bersorak untuk saya karena mereka lebih memilih pembalap lain. Saya bisa mengerti.

"Saya juga bisa mengatakan mereka mengatakan yang sebenarnya, karena ketika Anda memulai musim dengan tekanan untuk menang, Anda harus menunjukkan bahwa Anda memiliki kemungkinan untuk menjadi juara dunia dan saya kalah dalam banyak balapan karena saya terjatuh dan membuat kesalahan, banyak kesalahan.

“Yang pasti, awal tahun ini bukan situasi [yang mudah] karena motor kami tidak bekerja dengan baik dan butuh banyak waktu untuk berkembang.

"Tapi sudah di Portimao saya melakukan kesalahan besar di Q1, saya hampir mematahkan tulang selangka saya dan itu adalah balapan yang sulit. Kemudian di Jerez kami melakukan balapan yang luar biasa, itu adalah kunci untuk menjadi kompetitif lagi dan kemudian di Le Mans saya terjatuh lagi. dengan cara yang bodoh."

Tidak semua DNF Bagnaia adalah kesalahannya sendiri, contohnya saat ia tersingkir pada lap pembuka di Catalunya.

Tapi apa yang terjadi setelah dua non-finis berturut-turut di Barcelona dan Sachenring adalah pelanggaran mengemudi sambil mabuk di Ibiza selama liburan musim panas, yang semakin menyudutkan pembalap Ducati itu.

Namun jawaban Bagnaia atas rentetan kesalahan di dalam dan luar trek terbukti fantastis, dia menjadi pembalap yang benar-benar berbeda pada paruh kedua.

"Kami mengalami nasib buruk di Barcelona, tetapi [tidak dalam] balapan di Sachsenring karena saya ada di sana dan saya mencoba mengikuti Fabio," tambah Bagnaia.

“Saya tidak perlu mendekati balapan dengan cara seperti itu, karena saya yakin di paruh kedua balapan ban keras akan lebih baik.

"Setelah semua kesalahan itu adalah normal untuk menerima beberapa kritik, jadi saya menerimanya. Saya juga menerima ketika saya melakukan kesalahan selama musim panas di Ibiza, saya menerima semuanya.

"Saya mencoba untuk meningkatkan diri saya setiap saat dan kesalahan bisa terjadi, sayangnya. Tapi tanpa kesalahan Anda tidak bisa berkembang."