Acosta Sempat Insecure sebelum Meraih Kemenangan MotoGP Pertamanya
Pedro Acosta bangkit dari dua kecelakaan di Red Bull Ring untuk meraih kemenangan Grand Prix MotoGP pertamanya untuk KTM.

Dengan keunggulan Aprilia dan Ducati musim ini, Pedro Acosta khawatir telah menyia-nyiakan peluang emas setelah terjatuh saat memimpin Sprint Race di Red Bull Ring, yang dianggap sebagai "kesalahan paling memalukan dalam karier saya".
Kecelakaan kedua saat sesi pemanasan hari Minggu meningkatkan tekanan pada Acosta, tapi dia tampil tanpa cela untuk meraih kemenangan Grand Prix pertamanya di hadapan pendukung dan petinggi KTM yang datang langsung ke Red Bull Ring, balapan kandang mereka.
"Kekacauan kemarin itu parah sekali. Begitu pula kejadian hari ini [saat pemanasan], karena motor balap saya hancur," ujar Acosta kepada situs resmi MotoGP.
"Sejujurnya, saya sangat ketakutan, karena saya benar-benar tidak ingin melakukan kesalahan lagi di kandang KTM. Tapi bagaimanapun, kami berhasil mengatasinya."

Acosta sempat merebut posisi terdepan pada lap pembuka Sprint, namun mengalami nasib sebaliknya saat start balapan utama hari Minggu, di mana posisinya melorot dari urutan ketiga ke kelima.
Pembalap berusia 22 tahun itu kemudian menyalip Marc Marquez—yang akan menjadi rekan setimnya di Ducati kelak—serta duo pembalap Aprilia, Ai Ogura dan Marco Bezzecchi, hanya dalam kurun waktu tiga lap, sehingga hanya menyisakan pemenang Sprint, Jorge Martin, di depannya.
Acosta mengambil alih posisi pemimpin klasemen pada lap kesembilan, lalu mempertahankan keunggulannya hingga menyentuh garis finis.
“Sangat senang dengan balapan ini,” kata Acosta. “Memang benar saya kesulitan lebih keras dibandingkan kemarin di lap pertama. Selain itu, Jorge banyak menekan di awal, dan saya sedikit kesulitan untuk mengejarnya.
“Tetapi kemudian saya hanya mencoba untuk belajar dari kesalahan kemarin, dan berusaha untuk tidak membuat jarak menjadi lebih besar dari yang saya perlukan.
“Saya mencoba mempertahankan 0,5 hingga 0,7 detik ini sepanjang balapan, dan menjaga bahan bakar, karena ini adalah trek yang cukup sulit untuk itu.”

Acosta, yang sebelumnya memegang rekor podium MotoGP terbanyak tanpa kemenangan Grand Prix (15 kali), merayakan kemenangan tersebut dengan merebahkan motor RC16 miliknya lalu berguling-guling di tanah di chicane 2a, tepat di lokasi ia jatuh di Sprint Race hari Sabtu.
"Tidak ada cara lain untuk merayakan kemenangan itu, kan?!" ujarnya.
Acosta menambahkan: "Akhirnya! Saya bahkan teringat kemenangan terakhir saya [di Moto2] di Indonesia pada tahun 2023. Itu juga momen yang sama persis saat Tech3 mengumumkan bahwa saya akan bergabung dengan tim MotoGP mereka.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada KTM dan seluruh anggota tim - termasuk kru Tech3 - karena mereka telah membantu memperbaiki motor saya setelah kecelakaan pagi tadi.
"Tanpa mereka, kami tidak akan memiliki dua motor yang siap untuk balapan."
Sejak bergabung dengan paddock MotoGP di 2024, Acosta lebih dulu melihat Fermin Aldeguer dan Raul Fernandez lebih dulu meraih kemenangan kelas premier daripada dirinya.
Meski harus menunggu hingga balapan MotoGP ke-56-nya, Acosta rasanya tidak bisa memilih tempat yang lebih baik untuk meraih momen tersebut.
"Rasanya lebih emosional bisa mencapainya di kandang KTM dan markas Red Bull," ujarnya. "Saya sangat bahagia untuk mereka dan diri saya sendiri.
"[KTM] sempat sangat kesulitan tahun lalu, bahkan sekadar untuk tetap bersaing di kejuaraan. Dan akhirnya, melihat bagaimana mereka bangkit dari ambang kebangkrutan serta keberhasilan kami memulihkan potensi motor kami sungguh luar biasa.
"Untuk itu, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih. Perjalanannya panjang untuk sampai di titik ini, tetapi kami pasti akan menikmatinya."
Acosta, yang meraih kemenangan Sprint pertamanya pada pembuka musim di Buriram, kini naik ke posisi keempat dalam kejuaraan dunia, tertinggal 72 poin dari Martin.













