Tsunoda Mengungkap Kesalahan Terbesarnya sebagai Pembalap F1 Red Bull
Yuki Tsunoda buka-bukaan soal tantangan yang dihadapinya saat mendampingi Max Verstappen di Red Bull pada tahun 2025.

Yuki Tsunoda melihat kembali masa-masa sulitnya di Red Bull selama musim Formula 1 2025 dan mengakui "kesalahan terbesar" yang dibuatnya.
Pembalap Jepang berusia 26 tahun itu tiba-tiba dipromosikan ke Red Bull saat musim 2025 baru berjalan tiga balapan, menggantikan Liam Lawson yang sedang kesulitan dan diturunkan kembali ke Racing Bulls.
Tapi, Tsunoda juga kesulitan mengimbangi performa rekan setimnya, Max Verstappen, dan pada akhirnya dicoret oleh Red Bull untuk musim 2026.
Dalam sebuah wawancara dengan podcast Beyond The Grid, Tsunoda berbicara dengan sangat jujur mengenai kegagalannya menguasai mobil RB21 milik Red Bull yang dikenal sulit dikendalikan.

“Biasanya saya bisa memahami mobil, apa yang saya kendarai dan bagaimana karakteristiknya,” jelas Tsunoda. “Namun, rasanya bahkan setelah balapan di Abu Dhabi, saya tetap tidak tahu mobil seperti apa yang sebenarnya saya kendarai.
“Saya masih belum paham apa masalahnya dan hal apa yang membuat saya begitu kesulitan mempelajari serta membiasakan diri dengan mobil ini.
"Saya sempat merasa percaya diri, tetapi di beberapa balapan, entah mengapa rasa percaya diri itu hilang begitu saja. Sejujurnya, saya masih belum memahami mobil ini.”
Tsunoda mengakui bahwa egonya terlalu besar untuk mengubah gaya membalapnya, namun ia berpendapat bahwa upayanya meniru setup mobil Verstappen berperan besar dalam kemerosotan performanya.
"Satu hal tentang diri saya: ego saya cukup besar untuk tidak mengubah gaya membalap saya," ujarnya.
"Saya tahu apa yang saya lakukan saat membalap dan saya percaya pada diri sendiri. Jadi, saya tidak pernah mencoba mengubah gaya membalap saya agar sama dengan pembalap lain, meskipun pembalap tersebut kompetitif dan cepat.

“Tentu saja, bagi Max situasinya berbeda. Dia adalah juara dunia, dia telah membuktikan banyak hal, dan saya masih banyak belajar dari cara mengemudinya.
“Gaya mengemudi dasar saya tetap sama. Sempat terlintas di benak saya - mungkin untuk pertama kalinya sejak saya mengawali karier - untuk mengubah gaya mengemudi dan mencoba melakukan sesuatu yang mirip dengan Max.
"Namun, dari sudut pandang saya, saat melihat datanya, saya tidak melihat perbedaan yang signifikan dalam hal cara mengemudi.
“Hal yang paling sering saya lakukan - dan menurut saya kini merupakan kesalahan terbesar tahun lalu - adalah mencoba meniru pengaturan mobilnya, atau apa yang dia terapkan. Padahal saya tahu bahwa terkadang, jika saya merasa mobil mengalami oversteer parah, pengaturan Max secara teori justru membuat kondisi mobil jadi lebih buruk, lebih sensitif saat mengubah arah atau membuat mobil lebih mudah tergelincir.
“Saya cenderung memilih pengaturan tersebut, meskipun saya sendiri sudah kesulitan menghadapi oversteer. Terkadang situasinya bisa juga sebaliknya: meskipun saya sedang kesulitan dengan understeer, mobilnya justru memiliki karakteristik understeer lebih kuat. Saya tetap mencoba meniru pengaturan itu.”
















