Marc Marquez Atasi Kelemahan Lamanya untuk Kendalikan Pertarungan Gelar
Marc Marquez mengungkapkan satu kelemamahan lamanya berhasil ditaklukkan saat ia makin dekat dengan gelar MotoGP kedelapan.

Kemenangan Marc Marquez di MotoGP Malaysia membuatnya berpeluang meraih gelar ke-10 pada balapan berikutnya di Qatar, dan ia berhasil mencapai posisi tersebut dengan menaklukkan sebuah “titik lemah” yang sudah dihadapinya sepanjang karier.
Marquez sempat tertinggal lebih dari 100 poin dari pemimpin klasemen kejuaraan saat ia kembali berlaga di Grand Prix Italia pada akhir Mei, setelah menjalani operasi pada kaki kiri dan bahu kanannya.
Setelah meraih kemenangan Grand Prix ketujuhnya musim ini di Malaysia, ia kini memimpin klasemen dengan keunggulan 44 poin atas Jorge Martin, yang mundur dari akhir pekan Sepang akibat cedera pergelangan tangan yang dialaminya pada Sprint Race sebelumnya di Australia.
Jika Marquez memasuki putaran kedua terakhir musim ini di Portugal dengan keunggulan 74 poin atau lebih atas Martin, serta 75 poin atau lebih atas Marco Bezzecchi, maka pembalap tim Ducati Lenovo tersebut akan dinobatkan sebagai juara dunia untuk ke-10 kalinya di seluruh kelas.

Sepanjang kariernya, Marquez sering bergulat dengan dirinya sendiri - terutama dengan keinginannya untuk memaksimalkan setiap peluang yang ada dan tidak menyisakan apa pun bagi para pesaingnya.
Pada tahun 2026, dengan kondisi fisik yang membatasi kemampuannya untuk mengeluarkan performa maksimal dalam situasi-situasi tertentu, Marquez harus mengurangi keinginan tersebut. Alhasil, adaptasi diperlukan pada paruh kedua musim untuk akhirnya mengatasi apa yang ia sebut sebagai “titik lemah” ini.
“Saya hanya mencoba untuk mengikuti alur,” ujar Marc Marquez setelah meraih kemenangan di Sepang, saat berbicara dalam program MotoGP After The Flag di Sepang. “Di beberapa sirkuit saya lebih cepat, di sirkuit lain tidak.
“Ini merupakan proses adaptasi yang luar biasa - saya tidak akan menyebutnya ‘rehabilitasi’, melainkan ‘adaptasi’ - pada paruh kedua musim ini, dan saya kini mampu mengendalikan naluri saya, yang selama ini menjadi kelemahan saya sepanjang karier.”

Sepanjang musim ini, Marquez lebih banyak menghemat energi agar masih memiliki tenaga untuk balapan. Tapi di Malaysia - untuk pertama kalinya musim ini - ia langsung memacu motornya sejak FP1 untuk memberikan tekanan kepada para rivalnya.
“Namun akhir pekan ini, saya langsung menyerang sejak putaran pertama FP1. Saya mengerahkan segalanya, dan itulah kuncinya,” ujarnya.
“Sekarang saatnya untuk menyerang: kalau saya sudah bilang begitu, ya berarti memang harus begitu.
“Saya sangat berkonsentrasi. Saat melihat Jorge [Martin] absen akhir pekan ini, inilah saatnya untuk mewujudkannya, dan kami pun berhasil.”

Konteks balapan di Malaysia menjadi kesempatan sempurna untuk mengambil risiko lebih besar.
“Terkadang hidup memberikan momen-momen istimewa, momen-momen yang unik,” ujar Marquez dalam konferensi pers.
“GP Malaysia ini memberi saya peluang untuk memperlebar keunggulan dalam kejuaraan - peluang itu ada, tetapi Anda harus memanfaatkannya.
“Jadi, saya sangat fokus untuk meraih poin maksimal - kami berhasil mengumpulkan 34 poin, yang sangat penting bagi kejuaraan ini.”

Meskipun gelar juara kini sepenuhnya berada dalam kendali Marquez, ia mengatakan akan tetap mempertahankan “mentalitas” yang sama sampai gelar tersebut berhasil diraih.
“Tidak banyak balapan tersisa, tetapi masih banyak momen yang akan dilalui,” ujarnya dalam program yang sama “Jadi, tetap pertahankan mentalitas yang sama. Saat ini, masih ada banyak poin yang bisa diperebutkan. Kami harus benar-benar fokus.”
“Akhir pekan ini penting, terutama karena Jorge tidak hadir, tetapi juga untuk terus mengawasi Bezzecchi dan menjaga jarak darinya - mengingat balapan berikutnya akan berlangsung di Qatar dan Portimao, tempat di mana Bezzecchi biasanya tampil sangat cepat.”















