Jack Miller Malu dengan 'Laptime Baggers Cup' di Akhir GP Austria

Jack Miller mengatakan dirinya lebih lambat dibandingkan motor balap Bagger di akhir GP Austria.

Jack Miller’s Yamaha slower than the Baggers in closing laps of the Austrian MotoGP
Jack Miller’s Yamaha slower than the Baggers in closing laps of the Austrian MotoGP
© Gold and Goose

Jack Miller dibuat malu oleh masalah wheelspin ekstrem membuat catatan waktunya pada fase akhir MotoGP Austria lebih lambat dibandingkan motor Harley-Davidson Baggers.

Setelah berjuang mengatasi masalah elektronik sepanjang akhir pekan, pembalap Pramac Yamaha tersebut berhasil menyalip Franco Morbidelli dan Pol Espargaro pada lap-lap awal balapan hari Minggu.

Namun, pembalap asal Australia itu tak lama mulai mengalami gejala kehilangan traksi ban belakang, atau yang biasa dikenal dengan spin.

Setelah mencatatkan waktu terbaik 1 menit 30,939 detik pada lap ke-3 dari total 28, kecepatan Miller merosot drastis akibat ausnya ban belakang hingga mencapai lapisan dasar karet, yang tetap terjadi meski ia sudah beralih ke power mapping (penyaluran tenaga) paling rendah.

Austrian MotoGP Race Lap Times: Podium plus Yamaha riders.
Austrian MotoGP Race Lap Times: Podium plus Yamaha riders.
© Peter McLaren

Sudah berada di posisi paling belakang pada lap ke-9 dari total 28 lap, Miller mencatatkan laptime di kisaran 1:33 di fase akhir balapan. Kemudian lebih lambat menjadi 1:34, 1:35, dan 1:36 pada lap-lap berikutnya.

Pada dua lap terakhirnya, ia mencatatkan laptime 1 menit 38,929 detik dan 1 menit 40,225 detik, lebih lambat dibandingkan rekor 1 menit 38,689 detik untuk kelas Bagger.

“Sejujurnya, ini bukan hari yang membuat saya senang atau bahkan ingin saya ingat-ingat. Saya merasa cukup malu,” ujar Miller mengawali. 

“Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Mulai sekitar lap 13 atau 14, ban belakang terus berputar liar (spin) saat melaju di trek lurus; saya benar-benar tidak bisa melakukan apa pun untuk mengatasinya.

“Saya beralih ke mapping [mesin] 2 pada lap 3. Saat itu saya berada di dalam rombongan dan merasa kondisinya masih oke. Namun, sekitar lap 13 atau 14, saya menyadari bahwa ban mulai benar-benar selip parah di trek lurus, terutama saat menggunakan gigi tiga atau empat.

“Jadi, saya turun ke map 3, yang sebenarnya disiapkan sebagai map cadangan. Saya sempat bertahan di belakang Toprak hingga balapan menyisakan sekitar 7 lap, namun kemudian ban saya benar-benar sudah habis.”

Morbidelli passed Miller on lap 9 of 28.
Morbidelli passed Miller on lap 9 of 28.
© Gold and Goose

“Ada jalur lebar lapisan karet dasar - kira-kira selebar ‘itu' - di bagian tengah ban. Saya tidak bisa memacu motor secara maksimal di trek lurus. 

"Saya harus berhati-hati saat memasuki tikungan karena posisi ban berada di bagian karet dasar tersebut, sehingga motor cenderung tergelincir atau berputar tak terkendali; akhirnya saya hanya membalap sekadar untuk menyelesaikan lomba.

“Saya sangat kesulitan saat menggunakan konstruksi ban [khusus tahan panas] ini, tapi secara umum kami semua yang menggunakan motor Yamaha memang kesulitan, jadi situasinya selalu sangat menyulitkan. 

"Kami sudah dua kali menggunakan konstruksi ban ini tahun ini, yaitu di Thailand dan di sini. Dan pada kedua kesempatan itu, saya menyelesaikan balapan dengan kondisi ban yang menyisakan jalur karet dasar di bagian tengah

“Saya berusaha melakukan apa yang saya bisa, yaitu menegakkan motor. Situasinya agak bertolak belakang di sini karena saat motor ditegakkan, ban justru mulai selip begitu mencapai bagian tengah tapak ban.

“Sepertinya kami harus kembali merancang strategi. Kabar baiknya, kami akan kembali menggunakan ban standar di Motegi. Kabar buruknya, kami harus menghadapi situasi ini lagi di Mandalika. 

"Namun, semoga saja karakteristik trek Mandalika membuat motor lebih sering melaju dengan posisi ban miring. Jadi, kita lihat saja nanti.”

"Laptime bagger"

Meskipun performa motornya sangat buruk di tahap-tahap akhir, Miller ama sekali tidak mempertimbangkan untuk mundur dari balapan.

Miller, Razgatlioglu chase Morbidelli, 2026 Red Bull Ring MotoGP.
Miller, Razgatlioglu chase Morbidelli, 2026 Red Bull Ring MotoGP.
© Gold and Goose

"Tidak, saya bukan tipe pembalap yang cuma sekadar 'parkir motor' saja. Saya turun ke lintasan untuk menyelesaikan tugas," ujarnya. 

"Balapan belum berakhir sampai benar-benar usai. Kita tidak pernah tahu kapan bendera merah akan dikibarkan atau hal lainnya, jadi lebih baik tetap berada di lintasan daripada tidak sama sekali.

"Ya, memalukan sekali mencatatkan waktu 1 menit 38 detik; itu waktu yang setara dengan kelas Bagger. Tapi pada akhirnya, saya di sini untuk menjalankan tugas, dan hari ini tugas itu berakhir di posisi ke-21."

Pembalap Yamaha menempati empat dari lima posisi terakhir dalam balapan Grand Prix tersebut.

Fabio Quartararo finis di posisi ke-17, tertinggal 30,140 detik dari pemenang balapan asal KTM, Pedro Acosta, sementara pembalap VR46 Ducati, Morbidelli, berhasil bangkit ke posisi ke-18 setelah sempat tercecer ke urutan paling belakang di awal balapan.

Alex Rins finis di posisi ke-19 (+34,413 detik), Toprak Razgatlioglu di posisi ke-20 (+46,724 detik), dan Miller di posisi ke-21, tertinggal 1 menit 7,530 detik dari Acosta.

Archie McDonald was crowned as the inaugural Baggers World Cup Champion at the Red Bull Ring.
Archie McDonald was crowned as the inaugural Baggers World Cup Champion at the Red Bull Ring.
© Gold & Goose

"Kita bisa saja mendapatkan tambahan tenaga 40 HP, tapi..."

Saat menjelaskan mengapa motor Yamaha tersebut sering mengalami wheel spin, Miller mengatakan:

"Pembalap lain mampu menyalurkan tenaga ke lintasan dengan lebih halus saat keluar dari tikungan. Sepanjang akhir pekan ini, kami mengalami masalah pada sistem elektronik. Hari ini kondisinya sedikit lebih baik, namun belum bisa dibilang istimewa.

"Kami tidak bisa melakukan transfer bobot secara halus, jadi input apa pun yang agak mendadak atau tindakan apa pun pada ban ini akan mengganggu keseimbangannya, lalu memicu spin. 

"Begitu roda mulai berputar di tempat, kondisinya tidak bisa pulih kembali, dan akhirnya waktu putaran pun perlahan tapi pasti menjadi semakin lambat."

"Motor lain, terutama Aprilia, benar-benar mampu menyalurkan tenaga dengan sangat baik dan kemudian memanfaatkan tenaga yang lebih besar. 

"Kami mungkin bisa saja memiliki tambahan tenaga 40 daya kuda, tetapi kami tidak akan bisa memanfaatkannya karena ban akan mengalami spin, terutama dengan konstruksi ban yang [lebih kaku] ini."