Bagnaia Akui Terkejut dengan Performa Ban Belakang Hard di Motegi
Francesco Bagnaia mengatakan para pembalap MotoGP "bersalah" karena mengabaikan ban belakang Hard Michelin sebelum hari Minggu di Motegi.

Francesco Bagnaia mengatakan performa mengesankan ban belakang Hard pada balapan MotoGP Jepang hari Minggu menunjukkan bahwa para pembalap keliru telah mengabaikan ban tersebut sampai hari Minggu.
Tanpa adanya data sebelumnya mengenai permukaan aspal baru di sirkuit Jepang tersebut, Michelin menyediakan alokasi yang lebih banyak, yakni tiga pilihan ban belakang.
Ban Soft dan Medium memakai kontruksi standar yang serupa dengan tahun-tahun sebelumnya, sedangkan Hard memiliki casing khusus yang diperkuat - jenis yang biasanya diperlukan untuk balapan dengan beban ban dan suhu tinggi seperti Red Bull Ring, Buriram, dan Mandalika.
Akibatnya, banyak pembalap menganggap ban Hard sebagai pilihan 'darurat' atau cadangan, dan ban tersebut sama sekali tidak digunakan pada hari Jumat maupun Sabtu.

Namun, munculnya masalah blistering pada ban Soft dan Medium saat balapan Sprint mendorong Michelin untuk menarik sepenuhnya penggunaan ban Soft dan merekomendasikan ban Hard dengan konstruksi yang diperkuat untuk hari Minggu.
Para pembalap akhirnya menjajal ban tersebut dalam sesi pemanasan yang diperpanjang, dan yang mengejutkan, sebagian besar langsung mencatatkan waktu lebih cepat dibandingkan saat menggunakan Medium.
"Baik ban kompon Medium maupun Hard bekerja dengan baik [saat sesi pemanasan], namun ban keras jelas merupakan solusi terbaik - karena gripnya memadai, stabilitasnya sangat progresif, dan para pembalap sangat menyukai feelingnya," ujar Piero Taramasso dari Michelin. "Jadi, pemilihan ban untuk balapan pun menjadi sangat mudah."
Setiap pembalap memilih ban depan medium dan ban belakang keras untuk balapan Grand Prix tersebut, yang dimenangkan oleh rekan setim Bagnaia, Marc Marquez, dengan catatan waktu 37 detik lebih cepat dibandingkan kemenangan pembalap asal Italia itu sendiri pada tahun 2025.
"Itu kesalahan kami"
"Menurut saya itu kejutan besar, tapi kejutan yang menyenangkan!" ujar Bagnaia mengenai ban belakang Hard.
"Itu adalah kesalahan kami - para pembalap - karena tidak mencobanya lebih awal. Namun sejujurnya, saat melihat alokasi ban, saya mengira itu hanya ban cadangan. Michelin menyebutnya sebagai ban cadangan, jadi wajar jika kita berusaha untuk tidak menggunakannya.

“Namun, situasi seperti ini pernah terjadi sebelumnya, saat pilihan [ban] terbaik justru adalah yang ‘satunya’ lagi. Jadi, selalu penting untuk menguji segalanya sebelum tiba di balapan, dan adalah kesalahan kami karena tidak melakukannya.”
Kontruksi hard, kompon soft
Salah satu alasan para pembalap salah menilai ban belakang Hard tersebut adalah karena Michelin memadukan konstruksi yang diperkuat dengan karet berkompon Soft - sama seperti yang sebelumnya dilarang untuk balapan - alih-alih memakai kompon lebih keras yang biasanya dipasangkan dengan konstruksi tersebut.
"Para pembalap dan tim tidak ingin mengujinya sebelumnya, baik pada hari Jumat maupun Sabtu, karena keterbatasan waktu," tambah Taramasso.
"Namun, melihat hasilnya, [keputusan untuk tidak mencobanya] ternyata bukan langkah yang tepat. Jadi, menurut saya ini akan menjadi pelajaran berharga untuk balapan-balapan berikutnya seandainya kami membawa spesifikasi ketiga.
"Menurut saya, performa ban tersebut hampir sempurna."
Sayangnya bagi Bagnaia, pergantian ke ban keras tidak banyak membantu mengatasi kesulitan yang terus ia alami dengan motor GP26.
Juara dunia MotoGP dua kali itu finis di posisi kedelapan, tertinggal 20,3 detik di belakang Marquez, meskipun ia tetap menjadi pembalap Ducati terbaik berikutnya.
"Menurut saya, kami sudah melakukan yang terbaik dengan apa yang kami miliki. Sulit untuk berbuat lebih dari ini," ujarnya.

“Saat melihat data selama akhir pekan, saya mendapati bahwa saya tidak bisa melakukan apa yang dilakukan para pembalap tercepat.
"Jadi, masalahnya bukan pada kurangnya kecepatan ataupun kurangnya feeling - melainkan karena saya memang tidak bisa melakukannya. Sayang sekali, karena di sirkuit-sirkuit lain saya memang sudah kesulitan sejak tahun lalu, sehingga ingatan akan kecepatan saya pun agak memudar.
“Namun di sini, tahun lalu performa saya sangat kuat, jadi saya punya gambaran jelas mengenai apa yang mampu saya lakukan. Akan tetapi, sepanjang akhir pekan ini, hal itu terasa mustahil.
“Jadi, sayangnya situasinya memang seperti ini dan kita harus menerimanya, namun kita perlu melakukan yang terbaik. Menurut saya, tim saya telah bekerja dengan sangat baik dalam hal pengaturan elektronik maupun setelan motor, jadi hasil yang lebih baik dari ini rasanya mustahil.”
Sebagai pembalap yang sudah mencatat 31 kemenangan MotoGP bersama Ducati, Bagnaia telah memberikan kontribusi terbesar dibandingkan pembalap lainnya dalam pencapaian kemenangan ke-100 Gigi Dall’Igna pada hari Minggu.
"Semua orang mengenal Gigi dan tahu betapa hebat kemampuannya. Dia telah melakukan pekerjaan yang luar biasa," ujar Bagnaia.
"Sayangnya, dalam dua musim terakhir, saya tidak bisa melakukan apa yang sebenarnya mampu saya lakukan—yaitu menambah jumlah kemenangan dan meraih kemenangan ke-100 itu lebih awal - namun begitulah kenyataannya.
"Jadi, selamat kepada Gigi. Dia benar-benar telah melakukan pekerjaan yang luar biasa."















