Steiner Akui Dirinya Terlalu Lama Bertahan di Haas F1
Mantan bos tim Formula 1 Haas, Guenther Steiner, mengakui bahwa ia bertahan terlalu lama di tim tersebut.

Guenther Steiner merasa dirinya bertahan terlalu lama sebagai bos tim Formula 1 Haas setelah hubungannya dengan sang pemilik, Gene Haas, memburuk.
Steiner merupakan sosok kunci dalam pembentukan tim F1 Haas; ia menyusun rencana bisnis untuk proyek tersebut pada akhir tahun 2000-an dan mempresentasikan gagasannya kepada Gene Haas serta Bernie Ecclestone - yang saat itu perlu diyakinkan untuk memberikan tempat bagi tim tersebut di grid balapan.
Memimpin tim dari tahun 2014 hingga 2023, Steiner melihat performa Haas naik-turun secara drastis, dari tim papan tengah yang solid hingga menjadi tim penghuni posisi buncit. Hal ini perlahan mengikis hubungannya dengan sang pemilik, terutama karena pria asal Italia itu bersikeras agar tim mengorbankan musim 2023 yang buruk demi fokus membangun mobil yang lebih tangguh untuk tahun berikutnya.

Meskipun rencana tersebut dijalankan dan tahun 2024 dimulai dengan performa yang lebih kuat, Steiner tidak dipertahankan sebagai pemimpin tim, dan Ayao Komatsu dipromosikan untuk mengisi posisinya.
"Menurut saya, saya bertahan dua tahun terlalu lama," ujar Steiner dalam High Performance Podcast. "Hal yang seharusnya saya lakukan dengan lebih baik atau dengan cara berbeda adalah meyakinkan pihak pemilik untuk melaksanakannya, atau lebih baik lagi dalam menjual visi saya kepada mereka agar mereka mau mewujudkannya.
"Saya tidak tahu apakah saya akan pernah berhasil mencapainya. Itu adalah salah satu hal yang seharusnya saya lakukan, namun saya tidak berhasil mewujudkannya.
“Jadi, menurut saya, yang seharusnya saya lakukan hanyalah bilang, ‘Hei, ini tidak berhasil. Saya pergi sekarang.’
“Tapi pada akhirnya, saya tidak menyesal tidak pergi dua tahun sebelumnya. Saya bisa menerimanya dengan baik.
"Kalau menengok kembali - dengan pemahaman yang saya miliki sekarang - memang begitulah pendapat saya, tapi saat itu situasinya tidak seburuk itu; kalau memang seburuk itu, pasti saya sudah pergi.
Melihat lagi bagaimana keputusan itu "diambil" darinya, Steiner menambahkan: "Saya justru cukup senang keputusan itu diambil dari tangan saya.
"Terkadang Anda ingin mengambil keputusan, namun pada akhirnya tidak jadi melakukannya.
"Pada akhirnya, saya sangat senang hal itu terjadi karena saya tidak sejalan dengan arah tujuan tim. Visi saya berbeda dengan visi para pemilik.

"Jelas sekali, dialah pemilik timnya, jadi dia bebas melakukan apa pun yang dia inginkan. Dia sepenuhnya berhak melakukan hal itu dan tidak perlu meminta izin saya.
"Saya sangat meyakini prinsip bahwa ketika satu pintu tertutup, dua pintu lainnya akan terbuka; dan saat ini, justru terlalu banyak pintu yang terbuka bagi saya karena saya terlalu sibuk.
Sejak saat itu, Steiner beralih ke MotoGP dengan memimpin konsorsium yang mengakuiusisi tim Tech3. Namun, pria berusia 61 tahun itu baru-baru ini mengisyaratkan kesediaannya untuk kembali ke paddock F1 jika ada proyek yang tepat.
"Saya akan kembali jika ada proyek yang saya sukai," ujarnya dalam podcast Up to Speed "Maksud saya, saya selalu bilang: kalau sekadar kembali untuk bekerja saja, tidak."
Ia menambahkan: "Itu haruslah sesuatu yang benar-benar menantang bagi saya."
















